Rabu, 11 Mei 2016
Home »
» SEJARAH DAN PERKEMBANGAN SUKU MEE suku Mee di paniai Budaya
memang harus di lestarikan namun untuk melestarikanya kita membutuhkan
suatu komitmen dan rasa memiliki dalam diri seseorang individu. Budaya
pada dekade akhir-akhir ini merupakan suatu wacana memang jarang di
perbincangkan oleh banyak orang mengapa karena mereka mengangap bahwa
itu merupakan hal klasik dan merupakan suatu momok memalukan untuk diri
mereka sendiri. Mengapa mereka tidak mau meleatarikan budaya mereka
?beberapa alasan yang mendasari mereka adalah: 1. Manusia adalah
menjadikan budaya sebagai suatu momok yang memalukan. 2. Budaya bagi
mereka tidak akan memberikan keuntungan dalam hidup mereka. 3. Budaya
bukan bagian dari hidup mereka dalam aarti bahwa budaya bukanlah waktu
buat merekan dalam konteks bahwa zaman modern. 4. Budaya hanya banyak
berbicara masalah orang-orang kampung saja. 5. Budaya bukanlah milik
mereka namun itu hanya milik orang kampung dll. karena budaya di miliki
oleh setiap manusia dan pastinya berbeda. Budaya mee adalah salah satu
adopsi dari beberapa budaya dan tradisi yang terdapat di pegunungan
tengah papua masyarakat mee. Tujuan dari Suku mee sendiri terbentuk dan
ada di dunia adalah untuk menjaga dan melestarikan budaya ini bukan
menjadi pengikut budaya lain. Suatu tradisi akan muncul ketika seseorang
mendapat masalah atau problem dan bagaimana dia mengahadapi dan
memecahkan masalah tersebut. Maka cara orang itu menyelesaikan masalah
itu yang akan menjadi suatu tradisi dalam suku tersebut. Maka jasanya
itu akan dijadikan sebuah symbol dengan membentuk sebuah ritual
contohnya pesta yuwo (pesta emas) dengan pencipta pesta ini atau seorang
peternak babi dari kampung uwamani. I. Siapa suku mee itu ? Siapa
suku Mee itu? Suku Mee adalah salah satu suku dari 312 suku yang ada di
Papua. Suku Mee mendiami di wilayah Pegunungan Tengah Papua Bagian
Barat. Ciri khas wilayah suku Mee adalah di sekitar danau Paniai, danau
Tage, Danau Tigi, Lembah Kamu (sekarang Dogiyai) dan pegunungan Mapiha/
Mapisa. Namun, kini secara administrasi pemerintahan suku Mee berada di
sepuluh distrik dari Kabupaten Paniai dan empat Distrik dari Kabupaten
Nabire. Arsitektur tradisional adalah wujud suatu kebudayaan yang
bertumbuh dan berkembang bersama dengan pertumbahan dan perkembangan
suatu suku atau bangsa. Dalam arsitektur tradisional Suku Mee Papua
terkandung secara terpadu wujud kebudayaan orang Mee seperti ide-ide,
gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturann, pendangan hidup
dan lain sebagainya. Arsitektur tradisional adalah wujud karya nyata
leluhur. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah karya leluhur itu
dapat di lestarikan atau dimusnahkan, karena mengangap “kuno, kampungan,
ketinggalan, dan tradisional?”. Arsitektur tradisional merupakan suatu
wujud kebudayaan yang bertumbuh dan berkembang bersama dengan
pertumbahan dan perkembangan suatu suku atau bangsa mee itu sendiri. Dan
merupakan wujud unsur kebudayaan yang bisa diraba/ dilihat. Dalam
arsitektur tradisional suku Mee Papua terkandung nilai-nilai budaya yang
diperlihatkan melalui karya arsitektur tradisional. Arsitektur
tradisional yang dapat kita lihat saat ini adalah hasil kesimpulan akhir
atas pengujian alami yang di lakukan oleh leluhur orang Mee. Selain
itu, yamewa merupakan kesimpulan dari apa yang dipikirkan oleh oleh Mee,
dan “diwujudkan” dibangun sebagai tanggapan terhadap sekumpulan kondisi
yang kadang-kadang hanya bersifat fungsional semata atau merupakan
refleksi sosial, ekonomi, politik, perilaku atau tujuan-tujuan simbolis.
II. Arsitektur tradisional suku Mee Papua berikut ini adalah salah
satu dari berbagai macam suku di Papua yang memilki nilai-nilai, bentuk
dan ukuran, serta ungkapan jiwa melalui arsitektur yang sangat berbeda.
Tulisan berikut ini adalah salah satu suku mee yang berhasil dihimpun
melalui suatu penelitian “survei” pada beberapa waktu laktu lalu. Dalam
penelitian “survey” yang berjudul “Studi Tipologi dan Kearifan
Arsitektur Tradisional Suku Mee Papua” itu berhasil dikumpulkan data dan
fakta di lokasi penelitian yang dimaksud. Pada akhirnya menemukan
beberapa tipe arsitektur tradisional yang dimiliki oleh suku Mee Paniai
Papua yang di bahas berikut ini. Tulisan berikut ini merupakan gambaran
umum daripada hasil penelitian itu, yang di bahas dari sudut pandang
arsitekturnya saja. Untuk, itu pembahasan yang lebih mendalam lengkap
dengan kajian filosofi, antropologi budaya, sosial, dan lain sebagainya
kita akan bahas di waktu dan lain tempat waktu-waktu yang akan datang.
1. Tipologi arsitektur rumah tradisional Ada 7 (tujuh) Tipe
arsitektur rumah tradisional diantaranya adalah (1) Hame Owa Secara
harafia hame artinya laki-laki Owa artinya rumah. hame Owa artinya
(Rumah tinggal laki-laki). Rumah ini dibangun untuk tempat tinggal
laki-laki dalam suatu kampung. Semua bangunan (hame Owa) yang di bangun
dengan pertimbangan-pertimbangan khusus. Fungsi rumah hame Owa bukan
hanya merupakan suatu tempat tinggal laki-laki. Tetapi dalam rumah ini
terjadi berbagai macam aktivitas yang perlu dilakukan oleh laki-laki
secara turun-temurun. Selain sebagai tempat tinggal laki-laki, hame owa
adalah pusat komunikasi dan informasi aktual, tempat menyelesaikan
persoalan (perang, maskawin), tempat menyimpang alat-alat perang (panah)
pusat pembuatan alat perkebunan dan alat kesenian. Dan tempat
mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan nasehat bagi semua laki-laki
sejak usia 4/5 tahun. Tidak ada ukuran standar yang diturunkan oleh
nenek moyang. Tetapi dibangun dengan perkiraan atas kebutuhan akan ruang
dan penghuni. Cara menentukan ukuran bangunan adalah dengan mengukur
dengan tangan (jari-jari) atau kaki. Cara lain adalah memperkirakan
dengan ukuran tinggi manusia dengan tinggi bangunan. Ukuran bangunan
ini, yang telah dibangun adalah Panjang ±350cm. Lebar ±300cm. Tinggi
lantai ±60cm. Dinding±150-200cm. Kemiringan Atap ±150-300. Ketinggian
atap ±100-130cm. Bahan bangunan yang dipakai pada Yame Owa adalah untuk
penutup atap menggunakan kulit kayu. Panjang pohon ini diperkirakan
sekitar ±30.000cm-50.000cm. Diameter pohon ini sekitar 30 – 70 centi
meter. Ketebalan kulit kayu ini adalah 0,3 cm. Panjang ukuran yang
sering dipakai untuk penutup atap adalah ± 60 - 200 cm. Panjang ini
bukan standar yang dipakai, namun ditentukan serat pohan itu sendiri.
Jenis bahan yang di pakai untuk struktur bangunan adalah berupa
tiang-tiang pancang. Pada dinding bangunan mempunyai tiga lapisan yaitu
lapisan pertama dinding luar mengunakan tiang-tiang, lapisan kedua kulit
kayu dan lapisan ketiga menggunakan papan cincang. Bahan yang dipakai
untuk lantai terdiri dari tiang pondasi panggung, balok induk
(mutaidaa), balok anak (yokaa mutaida), deretan kayu buah yang berukuran
kecil yang di ikat dengan balok anak. (katage). Selanjutnya adalah
lapisan paling atas yaitu kulit pohon kelapa hutan. (tibaa). 1. Yagamo
Owa ,secara harafia kata Yagamo artinya perempuan Owa artinya rumah,
Yagamo Owa artinya (Rumah tinggal perempuan). Fungsi rumah Yagamo Owa
bukan hanya merupakan suatu tempat tinggal bagi perempuan, tetapi dalam
rumah ini terjadi berbagai macam aktivitas yang dilakukan oleh perempuan
secara turun-temurun. Selain sebagai tempat tinggal perempuan, fungsi
lain dari Yagamo Owa adalah pusat komunikasi dan informasi aktual, serta
tempat proses belajar bagi anak-anak perempuan. Tempat menyimpang
alat-alat perkebunan (yadokopa), pusat pembuatan alat penangkap ikan.
Ukuran bangunan Yagamo Owa, adalah panjang 350cm. Lebar 300cm. Tinggi
lantai ±60cm. Dinding ±150- 200 cm. Kemiringan atap ±150-300. Ketinggian
atap ±100-130cm. Bahan bangunan yang dipakai pada Yagamo Owa, untuk
penutup atap menggunakan daun pandang dan alang-alang serta beberapa
jenis bahan penutup atap lainnya. Penggunaan jenis bahan penutup atap
ini disesuaikan dengan ketersediaan bahan di sekitarnya. Pada umunya,
bahan penutup atap Yagamo Owa adalah yage dan widime. Kedua jenis bahan
ini mampu bertahan sampai berpuluhan tahun. Secara struktural bangunan,
Yagamo Owa hampir sama dengan Yame Owa. Namun, yang membedakan adalah
pada ornamen-ornamen san bahan yang digunakan. 2. Tii-Daa Bega Owa
(Rumah Honai) secara harafiah tii-da bega owa artinya sebuah bangunan
yang membentuk gunung yang mempunyai ujung yang tajam. Fungsi bangunan
ini adalah dua yaitu difungsikan untuk tempat tinggal laki-laki dan
tempat perempuan. Selain itu fungsi lain adalah tempat menyimpan
barang-barang berharga dari laki-laki ataupun perempuan. Lokasi bangunan
ini berada di kampung-kampung, namun jarang di bangun dengan alasan
bahwa rumah honai adalah rumah adat suku Dani (Wamena). Tetapi ada
perbedaan yang dapat dilihat adalah ketinggian bangunan. Dimana bangunan
rumah honai suku mee lebih tinggi dari pada dani (wamena). Bahan yang
digunakan untuk memdirikan banguan ini adalah sama dengan bangunan lain
yang ada di suku mee. Tetapi pada bagian penutup atap menggunan alang
alang. Selain itu pada rangka atap banyak menggunakan kayu buah. Pada
setiap dinding hanya mengunakan satu lapisan dinding. Sehingga pada
malam hari terjadi kedinginan. Ukuran bangunan ini adalah tinggi
lantai 60cm, tinggi dinding 150-200cm, tinggi atap ± 100cm, lebar ±
250-300cm, panjang ± 250- ±300m. Bentuk bangunan ini sama dengan
lingkaran dengan besar diameter ±250-300cm. 3. Yuwo Owa secara
harafiah dapat diartikan bahwa Yuwo artinya pesta Owa artinya rumah,
sehingga rumah ini sering disebut rumah pesta adat suku Mee. Bila
dipandang dari segi aktivitas dalam rumah ini, memiliki banyak “nama”.
Aktivitas yang dilakukan pada saat puncak pelaksanaan pesta adat,
sebelum aataupun sesudah sangat berfariasi. Fungsi bangunan ini adalah
pertama, tempat melakukan jual-beli dengan cara balter dan uang
tradisional (kulit kerang). Kedua, tempat mencari jodoh, saat melakukan
pesta adat laki-laki dan perempuan saling tukar gelang atau kalung
sebagai tanda ungkapan cinta. Ketiga, tempat hiburan malam. Satu minggu
satu kali mereka tentuykan sebagai malam hiburan, untuk mengekspresikan
seni tari maupun seni suara dalam rumah ini. Untul mendirikan rumah ini
perlu pertingan secara matang. Bangunan ini adalah bangunan yang paling
besar yang dibangnun oleh suku Mee. Ukuran bangunan ini adalah tinggi
lantai ±40cm, tinggi dinding ±200cm, tinggi atap 150cm, lebar bangunan
1.300cm, panjang bangunan ± 2.100cm. Bahan yang digunakan untuk
mendirikan bangunan ini adalah sama dengan bahan bangunan lainya. Tetapi
pada bagian penutup atap menggunakan daun pandang. Selain itu pada
rangka atap banyak menggunakan tiang-tiang. Pada setiap dinding hanya
mengunakan satu lapisan dinding (papan cincang). Sehingga pada malam
hari terjadi kedinginan. Bentuk banguan ini sama dengan lain yaitu
persegi empat. 4. Daba Owa (Rumah Pondok) secara harafia kata Daba
artinya Daba kecil Owa artinya rumah, Daba Owa artinya (Rumah pomdok
kecil). Rumah pondok di bangun di kebun hutan. Fungsi rumah Daba Owa
bukan hanya merupakan suatu tempat istirahat pada siang hari, tetapi
dalam rumah ini terdapat banyak fungsi yang meliputi pertama, tempat
masak-masak hasil kebun. Kedua, tempat menyimpan kampak/ parang,
alat-alat perkebunan, dan alat-alat perburuan. Ketiga, tempat berlindung
dari hujan dan panas sinar matahari. Keempat, tempat menjaga binatang
liar agar tidak mencungkil tanaman. Ukuran bangunan Daba Owa, adalah
panjang ±250cm. Lebar ±200cm. Tinggi dinding ±150-200cm. Kemiringan atap
± 150-300. Ketinggian atap ± 100-130cm. Bahan bangunan yang dipakai
pada Daba Owa, untuk penutup atap menggunakan daun pandang,alang-alang
dan kulit kayu. Penggunaan jenis bahan penutup atap ini disesuaikan
dengan ketersediaan bahan di sekitarnya. Secara struktural bangunan,
Daba Owa tidak sebanyak lapisan seperti Yame Owa dan Yagamo Owa.
Struktur dinding Daba Owa hanya satu lapisan. Deretan tiang-tiang yang
membentuk dingding ini, juga berfungsi sebagai struktur utama bangunan
ini. 5. Ekina Owa (Kandang Babi) Babi merupkan jenis binatang piaraan
yang sangat berharga dalam kehidupan suku Mee. Sehingga untuk menjaga
agar babi itu tetap hidup dalam kandang yang aman dan nyaman maka
dibangun sebuah rumah (kandang) sendiri. Bagi orang Mee babi merupakan
salah satu penentu status sosial dalam kehidupan masyarakat, yang sering
disebut tonawi. Seseorang bisa dikatakan tonawi karena dia memiliki
kekayaan (babi banyak) dan mempunyai istri yang banyak serta mempunyai
atau mengetahui hal-hal mistik. Fungsi rumah ini adalah tempat
tinggal/ kandang babi. Menurut cerita mitos, manusia (orang mee), hidup
bersama dengan ekina dalam satu rumah. Sekarang lokasi rumah ini berada
di pingir atau di dekat rumah laki-laki atau perempuan. Jarak antara
rumah tinggal dengan ekina owa di batasi oleh pagar (wee eda). Ukuran
bangunan ini adalah sekitar 1-2 meter, ukuran ini sangat berfariasi. Dan
di tentukan oleh jumlah babi yang di milikinya. Bentuk bangunan ini
sama dengan bentuk-bentuk bangunan lain, yaitu persegi empat. Pada atap
bangunan menggunan bentuk atap pelana, tetapi hanya sebagian.
Bahan-bahan yang di pakai untuk membangun rumah ini meliputi untuk
struktur utama dan pendukung adalah kayu. Bahan penutup atap adalah
kulit kayu dan alang-alang. Untuk pengikat antara struktur utama,
pendukung maupun penutup adalah rotan dan beberapa jenis tali. 6. Bedo
Owa (Kandang Ayam). Orang Mee sampai saat ini meyakini bahwa ayam
merupakang binatang piarahan pendantang, karana belum terdapat di daerah
Paniai. Namun demikian, pada saat ini yaitu sekitar tahun 1970-an ayam
dipelihara sebagai salah pemberi protein bagi tubuh manusia. Ayam hadir
di daerah atas bantuan pemerintah dan di bawah dari luar daerah ini.
Sesuai dengan nama rumah ini, fungsinya adalah kandang ayam. Dalam rumah
ini orang Mee memelihara ayam. Ayam-ayam akan tinggal dalam rumah ini
hanya pada malam hari. Karena pada siang hari ayam-ayam tersebut
berkliharaan di pinggir rumah atau kebun dekat ruamh tinggal. Sistem
pemeliaraan ini memberikan kesempatan pada burung-burung pemakan daging
misalnya elang untuk membunuh anak ayam. Saat ini orang Mee mengetahui
dan membedahkan bagaimana mendirikan sebuah rumah untuk kandang ayam
ataupun bebek, atau jenis binatang piaraan lainya. Akan tetapi sampai
saat ini belum mengenal cara dan sistem pemeliharaan yang baik dan
benar. Bentuk bangunan ini sama dengan bentuk-bentuk bangunan lain,
yaitu persegi empat. Pada atap bangunan menggunan bentuk atap pelana,
tetapi hanya sebagian. Ukuran kandang ayam ini, memiliki panjang ±200cm,
lebar ±200cm. Bahan-bahan yang di pakai untuk membangun rumah ini
meliputi untuk struktur utama dan pendukung adalah kayu. Bahan penutup
atap adalah kulit kayu dan alang-alang. Untuk pengikat antara struktur
utama, pendukung maupun penutup adalah rotan dan beberapa jenis tali.
2.Tipologi Arsitektur Pagar Tradisional Pagar merupakan suatu elemen
arsitektur yang di gunakan untuk melindungi kenyamanan dalam rumah
maupun kebun. Ada dua fungsi utama pagar bagi orang Mee adalah; pertama
memagari rumah tinggal entah itu rumah tinggal laki-laki atau rumah
tinggal perempuan. Kedua mengelilingi kebun agar babi atau pencuri tidak
masuk kedalam kebun. Babi merupakan binatang piarahan yang berharga,
cara memelihara babi (orang Mee) adalah malam hari di masukan kedalam
kandang (ekina owa). Tetapi pada siang hari dibiarkan untuk berkeliaran
di sekitar kebun atau rumah. Orang Mee hingga saat ini masih belum
mengenal cara memelihara ternak secara moderen (dalam kandang). Sistem
pemeliharaan babi seperti ini membuat orang Mee, harus berpikir untuk
membuat pagar, agar makanan dalam kebun tetap tumbuh dengan baik, tanpa
gangguan dari binatan liar, terutama babi (ekina). Ada tiga jenis
pagar yang di buat oleh masyarakat suku Mee yang di bedakan menurut
bentuk, kualiatas bahan yang digunakan, ukuran, dan cara pembuatan dari
setiap pagar yang ada diantaranya; 1. Wee eda adalah pagar ini di
tanam secara vertikal. Secara kualitas bahan, bila di banding dengan
kedua jenis pagar, maka pagar ini memiliki kualitas yang cukup tinggi.
Pemilihan jenis pohon untuk pagar ini tidak sembarang. Telah di
tentutukan beberapa jenis pohon untuk membuat pagar. Jenis pohon yang
pakai untuk membuat pagar ini antara lain, Yewo (kayu besi), Digi/
Didame, Obai, Duigi, Amo. Selain kualitas bahan yang memiliki tingkat
ketahanan yang cukup lama, pagar jenis ini juga sumber pendapatan uang
(mege). Apabila suatu pohon ketika di tebang atau di belah keras maka
jenis pohon ini memiliki kualitas ketahanan yang baik. Pagar ini
berfungsi sebagai, pertama pembatas tanah leluhur/ kebun, kedua pembatas
rumah dengan rumah, ketiga mengelilingi kebun agar babi tidak
mencungkil makanan. Keempat mendirikan kandang ayam (bedo owa) atau babi
(ekina owa). Lokasi pagar ini biasanya di dataran rendah, terutama
untuk kebun-kebun di sekitas rumah. Untuk kebun hutan (kebun yang di
buat dengan membersikan, menebang pohon disekitarnya) jarang di gunakan
jenis pagar ini. Umumnya pagar ini di gunakan untuk memagari rumah
dengan kebun di sekitar rumah yang terdapat banyak keliaran babi di
sekitarnya. (2) Petu Eda (Pagar Horinsontal) Secara kualiatas bahan
pagar ini masig lebih rendah dibanding wee eda. Tidak tahan lama, karena
menggunkan kualitas bahan rendah. Ukuran pagar lebar±2cm, panjang
±200-300cm. Bentuk pagar ini adalah merupakan susunan papan yaang
disusun dari bawah keatas. Papan-papan ini diikat pada pagar yang
ditanam secara vertikal. Pagar ini muda di buat, sehingga waktu
pengerjaan membutuhkan waktu relatif singkat. Pagar ini, dibuat pada
lokasi tertentu yang ditentukan dari lingkungan sekitrarnya. Misalnya,
kebun hutan (bukit), lembah. Pemilihan pagar jenis ini, yang digunakan
pada kebun hutan dan lembah dengan pertimbangn. Pertama, mudah mendapat
bahan untuk membuat pagar. Kedua, jenis pagar yang bersifat sementara.
Ketiga muda disesuaikan dengan kontur tanah. Keempat, proses pengerjaan
dan pembuatan yang muda dan gampang. (3) Tege Eda (Pagar Tiang) . Pagar
jenis ketiga yang dibuat oleh masyakat suku Mee adalah tege eda. Secara
kualitas bahan, serta ketahanan terhadap iklim sekitar sangat relatif
singkat. Bahan pembuatan pagar ini, diambil dari kayu yang masih muda
(baru tumbuh). Masyarakat Papua menyebut kayu buah. Pagar ini digunakan
untuk mengelilingi kandang ayam. Tetapi, biasa digunakan untuk
mengelilingi kebun atau rumah. Ukuran ketinggiannya lebih tinggi.
3.Tipologi Arsitektur Jembatan Tradisional. (1) Goo Koto
(Jembatan Gantung). Jembatan ini merupkan jembatan sangat panjang.
Fungsi jembatan ini adalah menyebragi ke kebun hutan atau luar kampung.
Bentuk jembatan ini adalah model jembatan gantung. Namun yang menjadi
persoalan atau bahaya adalah ketika menyebrang jembatan ini jatuh, maka
manusia tersebut tidak di selamatkan, karna hanyut dalam air. (2) Koma
Koto, (Jembatan Model Perahu). Disebut jembatan model perahu karana
bentuk dan cara pembuatan jembatan ini seperti perahu tradisional.
Panjangnya jembatan ini ditentukan dari besar kecilnya kali atau sungai.
Membuat jembatan ini, di buat di hutan seperti perahu tradisional.
Kualitas bahan (kayu yang dipakai) adalah kayu besi (yeewo piya. Jenis
kayu ini adalah salah satu jenis kayu yang kuat dan besar. Panjang satu
pohon mencapai 70-100meter. (3) Tege Koto (Jembatan Tiang).
Tege koto, artinya jembatang tiang karena hampir semua kayu yang
dipakai adalah tiang. Bahan-bahan untuk membuat jembatan ini dipilih
beberapa jenis kayu berdasarkan kuliatas kayu. Kayu yang digunakan untuk
jembatan ini adalah amoo piya, digi piya, yegou dan beberapa jenis kayu
yang dianggap kuat dan bertahan terhap air. Pada zaman dulu, pengikat
antar tiang-tiang pada struktur utama, tiang penyangga maupun struktur
pendukung adalah tali. Jenis tali yang dipilih adalah rotan dan beberapa
jenis tali laninnya. Sesuai degnan perkembangan zaman, saat dapat
sangat terlihat beberapa rumah pagar dan jembatan menggunkan paku dan
kabel atau kawat besi. (4) Piyauti Koto (Jembatan
Darurat), Jembatan ini di buat pada saat air sungai pasang. Letak
jembatan ini adalah di hutan karena memang di gunakan hanya untuk
menyebrang saat air sungai banjir. Jembatan ini juga model perahu, namun
bisa dikatakan jembatan darurat sebab sering terjadi banyak banjir saat
musim hujan. jadi Bahwa arsitektur adalah simbol yang mencerminkan
dasar hidup manusia. Arsitektur tradisional suku Mee adalah SIMBOL
PEMERSATU ide, perasaan, perbedaan pandangan. Suku Mee memandang
Arsitektur tradisional adalah tempat dan hasil budaya . Di situ mereka
memaknai setiap fenomena alam dan masyarakat yang dihadapi dalam proses
hidupnya. Pembentukan ruang pada arsitektur Suku Mee terjadi dengan
memertimbangkan tradisi masyaraakat dan penggunaan bahan-bahan lokal.
Karena itu arsitektur suku Mee adalah salah satu contoh timbal balik
antara alam dan budaya manusianya (nature and culture) yang bagus. Hal
ini perlu dikemukakan karena, perkembangan mutakhir, arsitektur tidak
lagi meningindahkan tradisi dan bahan, bentuk lokal sehingga banyak
darinya kehilangan identitas. III. Tingkat kesejateraan dan kemakmuran
suku mee Kesejahteraan dan kemakmuaran suatu bangsa dan etnis pada masa
primitive tergantung dari manusia dalam arti bahwa seseorang jika ingin
menajadi makmur maka seseorang memiliki sikap. a. Mempunyai kemauan yang
keras dalam diri orang mee. b. Selalu berusaha keras memenuhi kebutuhan
dengan cara-cara yang halal c. Tidak muda putus asa dengan mudah dan
begitu saja. d. Siap mengambil resiko jika terjadi masalah pada usaha
yang dimiliki contoh gagal panen. e. Selalu mencari peluang dan jalan
keluar untuk pengembangan dan kemajuan usaha mereka. f. Menjadi manusia
yang memiliki rasa miliki akan budayanya sendiri dan melestarikan dengan
dasra bahwa budaya adalah landasan. g. Selalu bersyukur atas pemberian
yang diberikan tuhan (ugatame). h. Menjadi berkat buat orang lain dalam
arti bahwa memunculkan dalam hidup berkeluarga yaitu kasih yang di
munculkan. i. Tidak sombong dan rendah diri. Memang tanah besar papua
mempunya kekayaan alam yang begitu menjajikan. Didalam daerah orang
sendiri terdapat kekayaan alam yang begitu berlimpah dan menjanjikan
pula. Namun daerah mee sediri menurut kata orang tua bahwa “tanah itu
hidup” dimana dikatakan anah itu hidup karena tanah adalah sumber segala
sesuatu dan asal manusia berasala dari tanah maka tanah itu harus di
hormati dengan cara melestarikan dan tidak membiarkan hutan gundul.
Tanah orang mee menurut mereka adalah tanah itu dimiliki bukan hanya
mereka saja melaikan dimilii oleh orang lain pula .sekarang muncul satu
pertanyaan siapa itu orang lain yang mereka maksud. Orang lain yang
mereka maksud adalah orang –orang yang mempunyai tanah itu “tuan tanah”
(makipuwee)dan orang lain yang menjaga hutang dengan dunia mereka
sendiri yaitu abe (perempuan setan),tameyai (setan terbang),
yimiyo(setan rupa manusia), itu merupakan 3 komponen bersatu namun
manusia mee dan 3 dunia gaib tersebut adalah satu dalam bentuk
lingkungan fisik mereka. Kemakmuran dan kesejateraan bangsa mee di
tentukan oleh mereka sendiri. Manusia mee akan makmur jika dia selalu
mengikuti beberapa sifat yang sudah ada diatas di tambah dengan
nilai-nilai hidup.beberapa nilai hidup mee adalah : 1. mogo kou
ugatame-ugatame tetai (jangan menyembah berhala) 2. ikepa yoko ugatame
beu (jangan ada padamu allah lain) 3. ugatame eka itopa teyabatai
(jangan menyebut tuhan allahmu dengan sembarang). 4. Daa nago yuwii
(kuduskanlah hari sabat) 5. Aku kai akaitai ya mana eyuwai (hormatilah
ayah dan ibumu) 6. Oma teyamoti (jangan mencuri) 7. Puyamana
tewegai(jangan bersaksi dusta) 8. Mogai tetai (jangan bersinah) 9.
Okeiya agiyo aniya-aniya tetai 10. Kesepuluh nilai-nilai hidup diatas
harus dijadikan landasan atau pondasi hidup dalam melangkah ke depan
dalam mencari hidup yang lebih baik. Tujuan dari sepuluh perintah allah
adalah sebagai suatu pedomaan hidup untuk berkarya di bumi ini. Sebagai
manusia pastinya setiap individu di bumi ini juga ingin sejahtera dan
makmur di dalam kehidupan. Suku mee sendiri adalah salah satu tipe suku
yang nomaden dulu namun sejak mereka menetap di paniai maka disalah
mereka merasakan susah dan senang hidup ini yang selama itu mereka belum
pernah rasahkan mengapa karena selama mereka masih dikatan sebagai suku
yang nomaden berartti bahwa seluruh kehidupan mereka tergantung pada
alam yang mana mereka mencari kebutuhan sehari-hari lansung dari hutan
dimana mereka bisa dikatakan bahwa makanan yang mereka makan bukan
olahan dan tidak memiliki bahan kimia lain yang menyebabkan suku mee
sendiri mempunyai umur yang cukup lama. Pada zaman modern ini penduduk
papua khusus manusia mee masih dikatakan berada dibahwah standar hidup
yang rendah yang mana mereka untuk mencari sepiring nasi untuk sehari
saja susah pada hal tanah besar ini kaya akan kekayaan alam yang begitu
menjajikan. Namun sekarang yang menjadi pertanyaan adalam mengapa masih
ada orang papua yang berada dibawah standar hidup yang rendah. Beberapa
indicator kemakmuran di tanah papua adalah : Table social Indicators
2007 Penduduk miskin Indek pembangunan Manusia Sumber penerangan
Listrik (%) Akses air bersih 40.78 63.41 46.36 38.44 Jadi dari
table diatas dapat kita lihat bahwa papua merupakan suatu pulau yang
kaya, dari “KATA ORANG” bahkan kita sendiri bisa melihatnya dengan mata
telanjang bahwa kekayaan kita tersebut ada dimana-mana dan dalam rupa
apa saja baik itu emas, tambang minyak, air bersih yang dihasikan hutan
dan hasil hutan lainya. namun disini saya mau katakan bahwa pemerintah
harus bekerja keras demi menjamin kesejateraan masyarakat ini karena
dari table ini sangat tampak bahwa sebagaian kecil dari masyarakat papua
yang meningkmati kekayaan alam papua namun itu juga secara tidak
sempurna. Dari table diatas dapat kita lihat bahwa 40,78% masyarakat
papua berada dibawah standar hidup atau berada dibawah standar hidup
yang memperhatikan. dimana itu bisa dikatakan bahwa mereka mencari makan
pun susah. Sekarang jika kita bandingkan dengan indeks pembagunan
manusia atau pembagunan sumber daya manusia itu sudah 63,41% dan jika
kita bandingkan dengan dengan penduduk miskin maka kira-kira 2.59%
manusia papua yang sudah berpendidikan dan belum mendapatkan pekerjaan
yang tetap. jadi itu berartri bahwa pemerintah provinsi papua tidak
memberikan peluang dan kempatan kepada generasi papua untuk berkarya
diatas tanahnya sendiri mengapa demiakian ? karena pemerintah provinsi
papua tidak membuka lapangan pekerjaan yang baru yang cocok untuk
mereka. Sekarang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yaitu dari table
diatas terdapat sumber penerangan sebesar 46,36% dan akses air bersih
38,44% itu berarti bahwa 54,64% penduduk papua tidak memakai penerangan
yang mana sekarang dipapua sudah ada dana otonomi khusus yang cukup
besar namun banyak masyarakat pula yang tidak mengunakan aliran listrik
untuk menerangi rumah mereka. Disini masalah air bersih juga menjadi
masalah yang sangat besar untuk masyarakat papua dan menjadi suatu
pekerjaan rumah yang mau tidak mau perlu di tuntaskan tahap demi tahap
untuk memberikan suatu kesejahteraan merata. Dalam hal ini air bersih
adalah kebutuhan pokok rumah tangga yang perlu di tuntaskan dimana jika
kita lihat, maka terdapat kira-kira 61,56% penduduk papua yang tidak
mengunakan air bersih untuk kebutuhan konsumsi mereka tiap harinya.
Sekarang kita akan lihat berapa besar banyak manusia papua yang sedang
diberdayakan dan berapa banyak manusia papua yang masih buta huruf.
Dengan dimikian diatas dapat kita ambil pendapat baru bahwa ini semuncul
dari kesalahan transpofasi bahasa alkitab ke dalam bahasa budaya dengan
contoh konkrit adalah pikeda. Dimana seiring dengan perkembangan zaman
yang begitu menjajikan dengan banyaknya peluandan yang cukup banyak dan
kesempatan untuk bekerja namun disini dari itu sebuah ancaman dan
worning yang diantaranya adalah sebagai berikut 1. Ancaman genoside 2.
Ancaman masuknnya budaya baru daari luar yang mengacurkan (breaking
down) budaya asli (original) yang ada di dalam suku-suku di papua
khussunya suku mee. 3. Ancaman dari dunai IPTEK adalah manusia dipaksa
untuk mengetahui mengetahui suatu ilmu pasti dan alam dengan tidak
memikirkan baik buruknya masalah itu sendiri. 4. Masalah ini juga
berasal dari IPTEK yaitu pornografi. Dan ada juga masalah lain yang
mengahambat pertumbuhan SDM dalam budaya ini adalah I. Factor kesalah
fahaman budaya Factor ini bisa muncul sebab seorang tidak di didik
melalui budaya IV. Tinjauan Cultural suku Mee sebagai langkah menuju
preventif Manusia cenderung untuk mengembangkan, aspek-aspek
kehidupannya, sampai mencapai suatu derajat kehalusan atau kompleksitas
tertentu. Kemampuan manusia untuk melakukan hal itu, kadang-kadang
menutupi kenyataan, bahwa mungkin manusia menghadapi masalah-masalah
dasar yang harus diatasinya, apabila dia ingin mempertahankan
eksistensinya. Masalah-masalah tersebut tidak hanya menyangkut
eksistensinya secara fisik, akan tetapi juga secara sosial. Unsur-unsur
dasar dari kehidupan sosial adalah syarat-syarat minimal yang harus
dipenuhi, demi eksistensinya suatu kehidupan sosial. Unsur-unsur dasar
tersebut merupakan kondisi-kondisi yang harus dipelihara dan
dikembangkan, agar kehidupan sosial dapat bertahan. Untuk mengatasi
masalah-masalah yang dihadapinya, manusia mengembangkan pola-pola
perilaku yang dapat dianggap sebagai bentuk-bentuk dasar dari organisasi
sosial. Pola-pola tersebut antara lain, mencakup adat-istiadat yang
paling sederhana sampai pada hal-hal yang relatif kompleks.
adat-istiadat (custom) atau secara alternatif sering disebut juga
kebiasaan (folkways)merupakan istilah yang menunjuk perilaku yang khusus
dan distandarisasikan yang merupakan kebiasaan bagi penganut-penganut
suatu kebudayaan tertentu. Seperti yang dikatakan oleh Edwar Tylor
(1832-1917), bahwa “kebudayaan (klasik) adalah setiap hasil perilaku
manusia yang kemudian diajarkannya kepada generasi-generasi berikutnya
yang pada gilirannya mengakumulasikan serta mentransmisikan
pengetahuannya.Pengertian tersebut dapat diterapkan pada suatu perilaku
yang secara relatif, sederhana misalnya, memberi salam kepada seorang
sahabat, sampai pada peristiwa-peristiwa yang agak kompleks seperti,
misalnya perkawinan, upacara adat, dan lain-lain”. Hubungan antara
pola-pola adat-istiadat dalam suatu masyarakat biasanya terorganisasikan
sedemikian rupa sehingga berkaitan dengan masalah-masalah atau
tujuan-tujuan tertentu. Pola atau perangkat adat-istiadat tertentu,
dinamakan peranan (role). Peranan berhubungan erat dengan
harapan-harapan mengenai perilaku-perilaku yang dianggap pantas.
Peranan-peranan tertentu bersifat terbuka dan dapat diberikan kepada
setiap warga masyarakat. Sehingga dapat dijadikan suatu tolok ukur
berdasarkan pendapat Edwar Tylor, yang menyatakan bahwa
kebudayaan/peradaban merupakan kompleks menyeluruh yang mencakup,
pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan lain
kemampuan serta kebiasaan yang dipunyai manusia sebagai warga dari suatu
masyarakat. Perkembangan perubahan kebudayaan suku Mee Nama yang
diturunkan oleh leluhur suku adalah Mee. Mee berarti orang-orang yang
telah dipenuhi dengan akal budi yang sehat; dapat berpikir secara logis;
dapat membedakan suku ini dari suku yang lain; dapat membedakan barang
miliknya dengan milik orang lain; daerah garapannya dengan garapan milik
orang lain; dan dapat mentaati amanat-amanat yang diwariskan oleh
leluhur, dan amanat yang paling utama yang dilarang adalah hal
perzinahan. (Asmara Adhy, 1980:71). Suku Mee dikenal sebagai “petani”
ubi jalar, talas, sayur-mayur, tebu dan buah-buahan. (Slamet Ina E.,
1964:35). Kedua hal ini menjadi fokus tinjauan perkembangan kebudayaan
suku Mee pada masa kini. Ada sedikitnya pertanyaan-pertanyaan yang
dilontarkan sebagai tolok ukur dan bahan analisis agar pemahaman kita
dapat tertuju pada tujuan pokok penulisan judul opini, yaitu: 1. Mengapa
suku Mee sekarang tidak dan jarang melakukan pesta budaya “yuwo” yang
pada masa-masa lalu ini merupakan kegiatan tradisi suku Mee? 2. mengapa
orang Mee sekarang tidak kenal daerah-daerah yang dikeramatkan oleh
leluhur/orang tua untuk terus dilindungi tetapi yang terjadi adalah
dibongkar untuk membuat kebun, rumah dan atau kandang ternak? 3. Mengapa
orang Mee sekarang tidak lagi memegang dan atau menyimpan benda-benda
keramat dan benda-benda antik?; yang dulunya oleh leluhur kita
menggunakan itu untuk mengatur dan mempertahankan hidup yang baik. 4.
Mengapa orang Mee sekarang pada usia remaja bisa pacaran dengan romantis
hingga pada etape erotisme yang susah dikendalikan? Padahal, dahulu hal
demikian disebut mogaii dan sangat tabu dilakukan oleh suku Mee karena
peranan tradisi adat-istiadat yang kuat dan baik sehingga sangat
ditakuti untuk dilakukannya. 5. Mengapa orang Mee sekarang jarang
menanam ipoo untuk koteka, Tawa (rokok)? Padahal, kedua tumbuhan ini
sangat diperhatikan oleh kaum lelaki suku Mee pada zaman dulu. Dari
sekian pertanyaan di atas ini menunjukkan adanya perubahan yang terjadi
secara signifikan dalam tradisi suku Mee akibat perkembangan arus
globalisasi. Perkembangan globalisasi ini disertai aroma budaya luar
(modern) yang menyebar luas dan dalam berbagai bentuk yang cenderung
mempengaruhi aspek kehidupan suku Mee. Faktor yang cenderung
mempengaruhi perubahan tradisi suku Mee adalah: Aspek Masuknya Agama dan
aspek masuknya Pemerintah. Aspek masuknya Agama pemenjadi awal
perubahan (difusi antarmasyarakat) budaya di kalangan suku Mee karena
orang asing pertama yang menginjakkan kaki di tanah Paniai adalah
seorang imam yang dapat menyebarkan agama. Pengaruh daripada masuknya
agama ini tidak dapat merubah suatu sistim budaya Mee secara menyeluruh
(universal). Akan tetapi sebagian yang diangap berlawanan dengan ajaran
agama. Aspek mesuknya pemerintah di wilaya paniai mengakibatkan sistem
cultural suku Mee dapat mengalami suatu perkembagan sistem pemerintahan
yang ada. Sitem pemerintahan yang ada dipimpin oleh Tonawi (kepala Suku)
Namun masih terbatas pada suatu wilaya yang dibatasi oleh gunung,
sungai, danau dan lainnya. Disamping itu juga Tonawi ditentukan
berdasarkan kekayaan dan cara bertanggung jawab demi kepentingan umum.
Hal perluh diketahui bahwa ada beberapa unsur budaya suku Mee yang
mengalami perubahan maupun perkembangan yang drastis adalah unsur budaya
pemerintahan(tonowi, meibo) , unsur kepercayaan (mogai daa, kegotai),
unsur berpakaian (koteka, Moge) dan unsur ekonomi (Mege). V.
Tradisi-tradisi suku mee Sebagai salah satu suku yang terbesar di papua
dimana suku mee termasuk kedalam 5 suku terbesar dipulau papua memiliki
peran aktif dalam pembagunan daerah dan pembangunan manusia secara
tradisional yang nantinya akan membentuk manusia handal di profesinya
masing-masing. pada sasarnya suku telah berkembang di paniai sejak 4
abab yang lalu dimana ekspedisi mereka dimulai dari png menuju oksibil
dari oksibil menuju wamena lebih tepatnya di lembah baliem (gua pasema)
mereka masih nomaden. suku ini membentuk jti diri mereka dari situ
membentuk prinsip hidup, membentuk nilai,norma, aturan,kaidah, filosofi
tradisional, dan ideologi yang menjadi dasar mereka untuk membangun
mansyarakat mee yang utuh dan mempunyi seperangkat media komunikasi,
tranformasi kepada generasi penerus yang baik. Memang suatu perkembangan
harus diawali dengan suatu perkembangan susah payah namun hasil dari
keringat kita keluarkan akan mengasilkan berkat yang melimpah bagi orang
lain dan kita sendiri akan emndapatkan upah yang setimpal disurga. Suku
memiliki banyak tradisi dan upaca adat beberapa uapacara adat yang
dipunyai ataralaina adalah 1. Yuwo (pesta emas), gold party 2. Kamutai
3. Ipuwe witogai 4. Wodauwaga wati membatasi kelakuaan atau dosa dari
kakek 5. Eba mukai pengumpulan dana 6. Gaupe untuk pemberian nama kepada
laki-laki dewasa 7. Kaboduwai untuk membatasi suatu penyakit yang
melanda suatu marga 8. Owoupuwe witogai karena kelaparan 9. Madou kamu 7
hr 7 malam harus did lm rumah A. YUWO (pesta emas atas pesta puncak)
Yuwo menurut salah seorang tokoh adat THOBIAS UKAGO dari kampung diyai
yaitu pesta adat untuk mencari dana atau pusat pencarian dana beberpa
fungsi yuwo .yuwo ini biasaya 1. Mencari jaringan masrga dari nenek
moyang dahulunya ada dimana yuwo dijadikan sebagai sarana komunikasi
perkenalan. 2. Sebagai penentu temperature ekonomi suatu wilayah di
daerah paniai Yuwo memiliki pernana penting dalam perkembangan suatu
daerah dengan kenikan tersebut yang dimilikinya maka disini yuwo. Sesuai
dengan fungsi yuwo sebagai penentu temperature ekonomi maka beberpa hal
yang dilaksanakan dalam yuwo dalam bentuk kegiatan transaksi jual beli
adalah. 1. Komuditi yang dijual • Babi (ekina) • Petatas (nota) • tebu
(eto) • Yatu • Kulit kayu (bebi) • Daun pandang (koboye) • Busur dan
anakpanah (uka mapega) 2. Prosesi berjalanya yuwo • Tahap pertama
Perencenaan adalah suatu rapat tradisional yang dilakukan oleh komunitas
diasuatu kampung dengan topic pembicaaan adalah bagaimana yuwo tersebut
dapat kita mabil dan diadakan di wilayahnya. Dengan hal ini mengecek
kesiapan masyarakat setempat untuk mengambil yuwo (yuwo moti) artinya
keputusan mengambil yuwo Sesudah perencanaan matang dimana ditputuskan
untuk mengambil yuwo sudah di sahkan untuk melakukana cara tersebut maka
selanjutnya adalah penembangan pohon ange adalah untuk mengambil yuwo
dengan membunuh satu ekor babi dan dikhususkan untuk laki-laki. Pada
acara penembangan onage ini ada satu larangan yaitu kayu onage yang di
tebang pertama tidak boleh terkena atau sentuh tanah dan onage tersebut
di letakan di atas keyage (para-para).ada beberap hal yang di perhatikan
adalah • Jika sejalan dengan penebangan pohon onage jika ada sekor
burung nuri lewar disitu maka akan terjadi malapapetaka yaitu orang yang
menebang pohon tersebut akan meninggal. • jika ada seekor burung wogiyo
maka istri dari orang yang menebang pohon tersebut akan meninggal. •
Ada beberpa hal yang menguntungkan ditu sewaktu penebangan pohon adalah
jika terdapat banyak sarang semut atau kutu busuk maka akan banyak
mendapat rejeki pada pesta tersebut. • Pengambilan kayu rumah yuwo (yuwo
owa) Beberapa kayu diambil untuk pembuatan yuwo owa adalah : • Onage
untuk alas bawah • Sebagai pemeleh luah adalh pohon obay • Sebagai ibu
tiang adalah katu besi (kayu digi atau amo) Pada bagian pondasi pohon
yang sudah di tujukan untuk pembuatan pondasi harus langsung di tanam
dan jika pembuatan rumah tersebut di mulai maka harus diselesaikan dalam
sehari rampun. Sesudah pembuatan yuwo owa tersebut yang boleh masuk
pada malam itu adalah hanya laki-laki yang di perbolehkan untuk menginap
pada malam pertama rumah tersebut telah jadi.pada malamnya nanti di
iringi dengan lagu daerah dan orang yang datang dari daerah lain boleh
tinggal di daerah tersebut beberapa hal yang penting adalah para tamu
yang datang untuk bertamu tersebut harus di berikan makan oleh
orang-orang di kampung dimana terselenggaranya acara tersebut. (by guti
)
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN SUKU MEE suku Mee di paniai Budaya memang harus di lestarikan namun untuk melestarikanya kita membutuhkan suatu komitmen dan rasa memiliki dalam diri seseorang individu. Budaya pada dekade akhir-akhir ini merupakan suatu wacana memang jarang di perbincangkan oleh banyak orang mengapa karena mereka mengangap bahwa itu merupakan hal klasik dan merupakan suatu momok memalukan untuk diri mereka sendiri. Mengapa mereka tidak mau meleatarikan budaya mereka ?beberapa alasan yang mendasari mereka adalah: 1. Manusia adalah menjadikan budaya sebagai suatu momok yang memalukan. 2. Budaya bagi mereka tidak akan memberikan keuntungan dalam hidup mereka. 3. Budaya bukan bagian dari hidup mereka dalam aarti bahwa budaya bukanlah waktu buat merekan dalam konteks bahwa zaman modern. 4. Budaya hanya banyak berbicara masalah orang-orang kampung saja. 5. Budaya bukanlah milik mereka namun itu hanya milik orang kampung dll. karena budaya di miliki oleh setiap manusia dan pastinya berbeda. Budaya mee adalah salah satu adopsi dari beberapa budaya dan tradisi yang terdapat di pegunungan tengah papua masyarakat mee. Tujuan dari Suku mee sendiri terbentuk dan ada di dunia adalah untuk menjaga dan melestarikan budaya ini bukan menjadi pengikut budaya lain. Suatu tradisi akan muncul ketika seseorang mendapat masalah atau problem dan bagaimana dia mengahadapi dan memecahkan masalah tersebut. Maka cara orang itu menyelesaikan masalah itu yang akan menjadi suatu tradisi dalam suku tersebut. Maka jasanya itu akan dijadikan sebuah symbol dengan membentuk sebuah ritual contohnya pesta yuwo (pesta emas) dengan pencipta pesta ini atau seorang peternak babi dari kampung uwamani. I. Siapa suku mee itu ? Siapa suku Mee itu? Suku Mee adalah salah satu suku dari 312 suku yang ada di Papua. Suku Mee mendiami di wilayah Pegunungan Tengah Papua Bagian Barat. Ciri khas wilayah suku Mee adalah di sekitar danau Paniai, danau Tage, Danau Tigi, Lembah Kamu (sekarang Dogiyai) dan pegunungan Mapiha/ Mapisa. Namun, kini secara administrasi pemerintahan suku Mee berada di sepuluh distrik dari Kabupaten Paniai dan empat Distrik dari Kabupaten Nabire. Arsitektur tradisional adalah wujud suatu kebudayaan yang bertumbuh dan berkembang bersama dengan pertumbahan dan perkembangan suatu suku atau bangsa. Dalam arsitektur tradisional Suku Mee Papua terkandung secara terpadu wujud kebudayaan orang Mee seperti ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturann, pendangan hidup dan lain sebagainya. Arsitektur tradisional adalah wujud karya nyata leluhur. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah karya leluhur itu dapat di lestarikan atau dimusnahkan, karena mengangap “kuno, kampungan, ketinggalan, dan tradisional?”. Arsitektur tradisional merupakan suatu wujud kebudayaan yang bertumbuh dan berkembang bersama dengan pertumbahan dan perkembangan suatu suku atau bangsa mee itu sendiri. Dan merupakan wujud unsur kebudayaan yang bisa diraba/ dilihat. Dalam arsitektur tradisional suku Mee Papua terkandung nilai-nilai budaya yang diperlihatkan melalui karya arsitektur tradisional. Arsitektur tradisional yang dapat kita lihat saat ini adalah hasil kesimpulan akhir atas pengujian alami yang di lakukan oleh leluhur orang Mee. Selain itu, yamewa merupakan kesimpulan dari apa yang dipikirkan oleh oleh Mee, dan “diwujudkan” dibangun sebagai tanggapan terhadap sekumpulan kondisi yang kadang-kadang hanya bersifat fungsional semata atau merupakan refleksi sosial, ekonomi, politik, perilaku atau tujuan-tujuan simbolis. II. Arsitektur tradisional suku Mee Papua berikut ini adalah salah satu dari berbagai macam suku di Papua yang memilki nilai-nilai, bentuk dan ukuran, serta ungkapan jiwa melalui arsitektur yang sangat berbeda. Tulisan berikut ini adalah salah satu suku mee yang berhasil dihimpun melalui suatu penelitian “survei” pada beberapa waktu laktu lalu. Dalam penelitian “survey” yang berjudul “Studi Tipologi dan Kearifan Arsitektur Tradisional Suku Mee Papua” itu berhasil dikumpulkan data dan fakta di lokasi penelitian yang dimaksud. Pada akhirnya menemukan beberapa tipe arsitektur tradisional yang dimiliki oleh suku Mee Paniai Papua yang di bahas berikut ini. Tulisan berikut ini merupakan gambaran umum daripada hasil penelitian itu, yang di bahas dari sudut pandang arsitekturnya saja. Untuk, itu pembahasan yang lebih mendalam lengkap dengan kajian filosofi, antropologi budaya, sosial, dan lain sebagainya kita akan bahas di waktu dan lain tempat waktu-waktu yang akan datang. 1. Tipologi arsitektur rumah tradisional Ada 7 (tujuh) Tipe arsitektur rumah tradisional diantaranya adalah (1) Hame Owa Secara harafia hame artinya laki-laki Owa artinya rumah. hame Owa artinya (Rumah tinggal laki-laki). Rumah ini dibangun untuk tempat tinggal laki-laki dalam suatu kampung. Semua bangunan (hame Owa) yang di bangun dengan pertimbangan-pertimbangan khusus. Fungsi rumah hame Owa bukan hanya merupakan suatu tempat tinggal laki-laki. Tetapi dalam rumah ini terjadi berbagai macam aktivitas yang perlu dilakukan oleh laki-laki secara turun-temurun. Selain sebagai tempat tinggal laki-laki, hame owa adalah pusat komunikasi dan informasi aktual, tempat menyelesaikan persoalan (perang, maskawin), tempat menyimpang alat-alat perang (panah) pusat pembuatan alat perkebunan dan alat kesenian. Dan tempat mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan nasehat bagi semua laki-laki sejak usia 4/5 tahun. Tidak ada ukuran standar yang diturunkan oleh nenek moyang. Tetapi dibangun dengan perkiraan atas kebutuhan akan ruang dan penghuni. Cara menentukan ukuran bangunan adalah dengan mengukur dengan tangan (jari-jari) atau kaki. Cara lain adalah memperkirakan dengan ukuran tinggi manusia dengan tinggi bangunan. Ukuran bangunan ini, yang telah dibangun adalah Panjang ±350cm. Lebar ±300cm. Tinggi lantai ±60cm. Dinding±150-200cm. Kemiringan Atap ±150-300. Ketinggian atap ±100-130cm. Bahan bangunan yang dipakai pada Yame Owa adalah untuk penutup atap menggunakan kulit kayu. Panjang pohon ini diperkirakan sekitar ±30.000cm-50.000cm. Diameter pohon ini sekitar 30 – 70 centi meter. Ketebalan kulit kayu ini adalah 0,3 cm. Panjang ukuran yang sering dipakai untuk penutup atap adalah ± 60 - 200 cm. Panjang ini bukan standar yang dipakai, namun ditentukan serat pohan itu sendiri. Jenis bahan yang di pakai untuk struktur bangunan adalah berupa tiang-tiang pancang. Pada dinding bangunan mempunyai tiga lapisan yaitu lapisan pertama dinding luar mengunakan tiang-tiang, lapisan kedua kulit kayu dan lapisan ketiga menggunakan papan cincang. Bahan yang dipakai untuk lantai terdiri dari tiang pondasi panggung, balok induk (mutaidaa), balok anak (yokaa mutaida), deretan kayu buah yang berukuran kecil yang di ikat dengan balok anak. (katage). Selanjutnya adalah lapisan paling atas yaitu kulit pohon kelapa hutan. (tibaa). 1. Yagamo Owa ,secara harafia kata Yagamo artinya perempuan Owa artinya rumah, Yagamo Owa artinya (Rumah tinggal perempuan). Fungsi rumah Yagamo Owa bukan hanya merupakan suatu tempat tinggal bagi perempuan, tetapi dalam rumah ini terjadi berbagai macam aktivitas yang dilakukan oleh perempuan secara turun-temurun. Selain sebagai tempat tinggal perempuan, fungsi lain dari Yagamo Owa adalah pusat komunikasi dan informasi aktual, serta tempat proses belajar bagi anak-anak perempuan. Tempat menyimpang alat-alat perkebunan (yadokopa), pusat pembuatan alat penangkap ikan. Ukuran bangunan Yagamo Owa, adalah panjang 350cm. Lebar 300cm. Tinggi lantai ±60cm. Dinding ±150- 200 cm. Kemiringan atap ±150-300. Ketinggian atap ±100-130cm. Bahan bangunan yang dipakai pada Yagamo Owa, untuk penutup atap menggunakan daun pandang dan alang-alang serta beberapa jenis bahan penutup atap lainnya. Penggunaan jenis bahan penutup atap ini disesuaikan dengan ketersediaan bahan di sekitarnya. Pada umunya, bahan penutup atap Yagamo Owa adalah yage dan widime. Kedua jenis bahan ini mampu bertahan sampai berpuluhan tahun. Secara struktural bangunan, Yagamo Owa hampir sama dengan Yame Owa. Namun, yang membedakan adalah pada ornamen-ornamen san bahan yang digunakan. 2. Tii-Daa Bega Owa (Rumah Honai) secara harafiah tii-da bega owa artinya sebuah bangunan yang membentuk gunung yang mempunyai ujung yang tajam. Fungsi bangunan ini adalah dua yaitu difungsikan untuk tempat tinggal laki-laki dan tempat perempuan. Selain itu fungsi lain adalah tempat menyimpan barang-barang berharga dari laki-laki ataupun perempuan. Lokasi bangunan ini berada di kampung-kampung, namun jarang di bangun dengan alasan bahwa rumah honai adalah rumah adat suku Dani (Wamena). Tetapi ada perbedaan yang dapat dilihat adalah ketinggian bangunan. Dimana bangunan rumah honai suku mee lebih tinggi dari pada dani (wamena). Bahan yang digunakan untuk memdirikan banguan ini adalah sama dengan bangunan lain yang ada di suku mee. Tetapi pada bagian penutup atap menggunan alang alang. Selain itu pada rangka atap banyak menggunakan kayu buah. Pada setiap dinding hanya mengunakan satu lapisan dinding. Sehingga pada malam hari terjadi kedinginan. Ukuran bangunan ini adalah tinggi lantai 60cm, tinggi dinding 150-200cm, tinggi atap ± 100cm, lebar ± 250-300cm, panjang ± 250- ±300m. Bentuk bangunan ini sama dengan lingkaran dengan besar diameter ±250-300cm. 3. Yuwo Owa secara harafiah dapat diartikan bahwa Yuwo artinya pesta Owa artinya rumah, sehingga rumah ini sering disebut rumah pesta adat suku Mee. Bila dipandang dari segi aktivitas dalam rumah ini, memiliki banyak “nama”. Aktivitas yang dilakukan pada saat puncak pelaksanaan pesta adat, sebelum aataupun sesudah sangat berfariasi. Fungsi bangunan ini adalah pertama, tempat melakukan jual-beli dengan cara balter dan uang tradisional (kulit kerang). Kedua, tempat mencari jodoh, saat melakukan pesta adat laki-laki dan perempuan saling tukar gelang atau kalung sebagai tanda ungkapan cinta. Ketiga, tempat hiburan malam. Satu minggu satu kali mereka tentuykan sebagai malam hiburan, untuk mengekspresikan seni tari maupun seni suara dalam rumah ini. Untul mendirikan rumah ini perlu pertingan secara matang. Bangunan ini adalah bangunan yang paling besar yang dibangnun oleh suku Mee. Ukuran bangunan ini adalah tinggi lantai ±40cm, tinggi dinding ±200cm, tinggi atap 150cm, lebar bangunan 1.300cm, panjang bangunan ± 2.100cm. Bahan yang digunakan untuk mendirikan bangunan ini adalah sama dengan bahan bangunan lainya. Tetapi pada bagian penutup atap menggunakan daun pandang. Selain itu pada rangka atap banyak menggunakan tiang-tiang. Pada setiap dinding hanya mengunakan satu lapisan dinding (papan cincang). Sehingga pada malam hari terjadi kedinginan. Bentuk banguan ini sama dengan lain yaitu persegi empat. 4. Daba Owa (Rumah Pondok) secara harafia kata Daba artinya Daba kecil Owa artinya rumah, Daba Owa artinya (Rumah pomdok kecil). Rumah pondok di bangun di kebun hutan. Fungsi rumah Daba Owa bukan hanya merupakan suatu tempat istirahat pada siang hari, tetapi dalam rumah ini terdapat banyak fungsi yang meliputi pertama, tempat masak-masak hasil kebun. Kedua, tempat menyimpan kampak/ parang, alat-alat perkebunan, dan alat-alat perburuan. Ketiga, tempat berlindung dari hujan dan panas sinar matahari. Keempat, tempat menjaga binatang liar agar tidak mencungkil tanaman. Ukuran bangunan Daba Owa, adalah panjang ±250cm. Lebar ±200cm. Tinggi dinding ±150-200cm. Kemiringan atap ± 150-300. Ketinggian atap ± 100-130cm. Bahan bangunan yang dipakai pada Daba Owa, untuk penutup atap menggunakan daun pandang,alang-alang dan kulit kayu. Penggunaan jenis bahan penutup atap ini disesuaikan dengan ketersediaan bahan di sekitarnya. Secara struktural bangunan, Daba Owa tidak sebanyak lapisan seperti Yame Owa dan Yagamo Owa. Struktur dinding Daba Owa hanya satu lapisan. Deretan tiang-tiang yang membentuk dingding ini, juga berfungsi sebagai struktur utama bangunan ini. 5. Ekina Owa (Kandang Babi) Babi merupkan jenis binatang piaraan yang sangat berharga dalam kehidupan suku Mee. Sehingga untuk menjaga agar babi itu tetap hidup dalam kandang yang aman dan nyaman maka dibangun sebuah rumah (kandang) sendiri. Bagi orang Mee babi merupakan salah satu penentu status sosial dalam kehidupan masyarakat, yang sering disebut tonawi. Seseorang bisa dikatakan tonawi karena dia memiliki kekayaan (babi banyak) dan mempunyai istri yang banyak serta mempunyai atau mengetahui hal-hal mistik. Fungsi rumah ini adalah tempat tinggal/ kandang babi. Menurut cerita mitos, manusia (orang mee), hidup bersama dengan ekina dalam satu rumah. Sekarang lokasi rumah ini berada di pingir atau di dekat rumah laki-laki atau perempuan. Jarak antara rumah tinggal dengan ekina owa di batasi oleh pagar (wee eda). Ukuran bangunan ini adalah sekitar 1-2 meter, ukuran ini sangat berfariasi. Dan di tentukan oleh jumlah babi yang di milikinya. Bentuk bangunan ini sama dengan bentuk-bentuk bangunan lain, yaitu persegi empat. Pada atap bangunan menggunan bentuk atap pelana, tetapi hanya sebagian. Bahan-bahan yang di pakai untuk membangun rumah ini meliputi untuk struktur utama dan pendukung adalah kayu. Bahan penutup atap adalah kulit kayu dan alang-alang. Untuk pengikat antara struktur utama, pendukung maupun penutup adalah rotan dan beberapa jenis tali. 6. Bedo Owa (Kandang Ayam). Orang Mee sampai saat ini meyakini bahwa ayam merupakang binatang piarahan pendantang, karana belum terdapat di daerah Paniai. Namun demikian, pada saat ini yaitu sekitar tahun 1970-an ayam dipelihara sebagai salah pemberi protein bagi tubuh manusia. Ayam hadir di daerah atas bantuan pemerintah dan di bawah dari luar daerah ini. Sesuai dengan nama rumah ini, fungsinya adalah kandang ayam. Dalam rumah ini orang Mee memelihara ayam. Ayam-ayam akan tinggal dalam rumah ini hanya pada malam hari. Karena pada siang hari ayam-ayam tersebut berkliharaan di pinggir rumah atau kebun dekat ruamh tinggal. Sistem pemeliaraan ini memberikan kesempatan pada burung-burung pemakan daging misalnya elang untuk membunuh anak ayam. Saat ini orang Mee mengetahui dan membedahkan bagaimana mendirikan sebuah rumah untuk kandang ayam ataupun bebek, atau jenis binatang piaraan lainya. Akan tetapi sampai saat ini belum mengenal cara dan sistem pemeliharaan yang baik dan benar. Bentuk bangunan ini sama dengan bentuk-bentuk bangunan lain, yaitu persegi empat. Pada atap bangunan menggunan bentuk atap pelana, tetapi hanya sebagian. Ukuran kandang ayam ini, memiliki panjang ±200cm, lebar ±200cm. Bahan-bahan yang di pakai untuk membangun rumah ini meliputi untuk struktur utama dan pendukung adalah kayu. Bahan penutup atap adalah kulit kayu dan alang-alang. Untuk pengikat antara struktur utama, pendukung maupun penutup adalah rotan dan beberapa jenis tali. 2.Tipologi Arsitektur Pagar Tradisional Pagar merupakan suatu elemen arsitektur yang di gunakan untuk melindungi kenyamanan dalam rumah maupun kebun. Ada dua fungsi utama pagar bagi orang Mee adalah; pertama memagari rumah tinggal entah itu rumah tinggal laki-laki atau rumah tinggal perempuan. Kedua mengelilingi kebun agar babi atau pencuri tidak masuk kedalam kebun. Babi merupakan binatang piarahan yang berharga, cara memelihara babi (orang Mee) adalah malam hari di masukan kedalam kandang (ekina owa). Tetapi pada siang hari dibiarkan untuk berkeliaran di sekitar kebun atau rumah. Orang Mee hingga saat ini masih belum mengenal cara memelihara ternak secara moderen (dalam kandang). Sistem pemeliharaan babi seperti ini membuat orang Mee, harus berpikir untuk membuat pagar, agar makanan dalam kebun tetap tumbuh dengan baik, tanpa gangguan dari binatan liar, terutama babi (ekina). Ada tiga jenis pagar yang di buat oleh masyarakat suku Mee yang di bedakan menurut bentuk, kualiatas bahan yang digunakan, ukuran, dan cara pembuatan dari setiap pagar yang ada diantaranya; 1. Wee eda adalah pagar ini di tanam secara vertikal. Secara kualitas bahan, bila di banding dengan kedua jenis pagar, maka pagar ini memiliki kualitas yang cukup tinggi. Pemilihan jenis pohon untuk pagar ini tidak sembarang. Telah di tentutukan beberapa jenis pohon untuk membuat pagar. Jenis pohon yang pakai untuk membuat pagar ini antara lain, Yewo (kayu besi), Digi/ Didame, Obai, Duigi, Amo. Selain kualitas bahan yang memiliki tingkat ketahanan yang cukup lama, pagar jenis ini juga sumber pendapatan uang (mege). Apabila suatu pohon ketika di tebang atau di belah keras maka jenis pohon ini memiliki kualitas ketahanan yang baik. Pagar ini berfungsi sebagai, pertama pembatas tanah leluhur/ kebun, kedua pembatas rumah dengan rumah, ketiga mengelilingi kebun agar babi tidak mencungkil makanan. Keempat mendirikan kandang ayam (bedo owa) atau babi (ekina owa). Lokasi pagar ini biasanya di dataran rendah, terutama untuk kebun-kebun di sekitas rumah. Untuk kebun hutan (kebun yang di buat dengan membersikan, menebang pohon disekitarnya) jarang di gunakan jenis pagar ini. Umumnya pagar ini di gunakan untuk memagari rumah dengan kebun di sekitar rumah yang terdapat banyak keliaran babi di sekitarnya. (2) Petu Eda (Pagar Horinsontal) Secara kualiatas bahan pagar ini masig lebih rendah dibanding wee eda. Tidak tahan lama, karena menggunkan kualitas bahan rendah. Ukuran pagar lebar±2cm, panjang ±200-300cm. Bentuk pagar ini adalah merupakan susunan papan yaang disusun dari bawah keatas. Papan-papan ini diikat pada pagar yang ditanam secara vertikal. Pagar ini muda di buat, sehingga waktu pengerjaan membutuhkan waktu relatif singkat. Pagar ini, dibuat pada lokasi tertentu yang ditentukan dari lingkungan sekitrarnya. Misalnya, kebun hutan (bukit), lembah. Pemilihan pagar jenis ini, yang digunakan pada kebun hutan dan lembah dengan pertimbangn. Pertama, mudah mendapat bahan untuk membuat pagar. Kedua, jenis pagar yang bersifat sementara. Ketiga muda disesuaikan dengan kontur tanah. Keempat, proses pengerjaan dan pembuatan yang muda dan gampang. (3) Tege Eda (Pagar Tiang) . Pagar jenis ketiga yang dibuat oleh masyakat suku Mee adalah tege eda. Secara kualitas bahan, serta ketahanan terhadap iklim sekitar sangat relatif singkat. Bahan pembuatan pagar ini, diambil dari kayu yang masih muda (baru tumbuh). Masyarakat Papua menyebut kayu buah. Pagar ini digunakan untuk mengelilingi kandang ayam. Tetapi, biasa digunakan untuk mengelilingi kebun atau rumah. Ukuran ketinggiannya lebih tinggi. 3.Tipologi Arsitektur Jembatan Tradisional. (1) Goo Koto (Jembatan Gantung). Jembatan ini merupkan jembatan sangat panjang. Fungsi jembatan ini adalah menyebragi ke kebun hutan atau luar kampung. Bentuk jembatan ini adalah model jembatan gantung. Namun yang menjadi persoalan atau bahaya adalah ketika menyebrang jembatan ini jatuh, maka manusia tersebut tidak di selamatkan, karna hanyut dalam air. (2) Koma Koto, (Jembatan Model Perahu). Disebut jembatan model perahu karana bentuk dan cara pembuatan jembatan ini seperti perahu tradisional. Panjangnya jembatan ini ditentukan dari besar kecilnya kali atau sungai. Membuat jembatan ini, di buat di hutan seperti perahu tradisional. Kualitas bahan (kayu yang dipakai) adalah kayu besi (yeewo piya. Jenis kayu ini adalah salah satu jenis kayu yang kuat dan besar. Panjang satu pohon mencapai 70-100meter. (3) Tege Koto (Jembatan Tiang). Tege koto, artinya jembatang tiang karena hampir semua kayu yang dipakai adalah tiang. Bahan-bahan untuk membuat jembatan ini dipilih beberapa jenis kayu berdasarkan kuliatas kayu. Kayu yang digunakan untuk jembatan ini adalah amoo piya, digi piya, yegou dan beberapa jenis kayu yang dianggap kuat dan bertahan terhap air. Pada zaman dulu, pengikat antar tiang-tiang pada struktur utama, tiang penyangga maupun struktur pendukung adalah tali. Jenis tali yang dipilih adalah rotan dan beberapa jenis tali laninnya. Sesuai degnan perkembangan zaman, saat dapat sangat terlihat beberapa rumah pagar dan jembatan menggunkan paku dan kabel atau kawat besi. (4) Piyauti Koto (Jembatan Darurat), Jembatan ini di buat pada saat air sungai pasang. Letak jembatan ini adalah di hutan karena memang di gunakan hanya untuk menyebrang saat air sungai banjir. Jembatan ini juga model perahu, namun bisa dikatakan jembatan darurat sebab sering terjadi banyak banjir saat musim hujan. jadi Bahwa arsitektur adalah simbol yang mencerminkan dasar hidup manusia. Arsitektur tradisional suku Mee adalah SIMBOL PEMERSATU ide, perasaan, perbedaan pandangan. Suku Mee memandang Arsitektur tradisional adalah tempat dan hasil budaya . Di situ mereka memaknai setiap fenomena alam dan masyarakat yang dihadapi dalam proses hidupnya. Pembentukan ruang pada arsitektur Suku Mee terjadi dengan memertimbangkan tradisi masyaraakat dan penggunaan bahan-bahan lokal. Karena itu arsitektur suku Mee adalah salah satu contoh timbal balik antara alam dan budaya manusianya (nature and culture) yang bagus. Hal ini perlu dikemukakan karena, perkembangan mutakhir, arsitektur tidak lagi meningindahkan tradisi dan bahan, bentuk lokal sehingga banyak darinya kehilangan identitas. III. Tingkat kesejateraan dan kemakmuran suku mee Kesejahteraan dan kemakmuaran suatu bangsa dan etnis pada masa primitive tergantung dari manusia dalam arti bahwa seseorang jika ingin menajadi makmur maka seseorang memiliki sikap. a. Mempunyai kemauan yang keras dalam diri orang mee. b. Selalu berusaha keras memenuhi kebutuhan dengan cara-cara yang halal c. Tidak muda putus asa dengan mudah dan begitu saja. d. Siap mengambil resiko jika terjadi masalah pada usaha yang dimiliki contoh gagal panen. e. Selalu mencari peluang dan jalan keluar untuk pengembangan dan kemajuan usaha mereka. f. Menjadi manusia yang memiliki rasa miliki akan budayanya sendiri dan melestarikan dengan dasra bahwa budaya adalah landasan. g. Selalu bersyukur atas pemberian yang diberikan tuhan (ugatame). h. Menjadi berkat buat orang lain dalam arti bahwa memunculkan dalam hidup berkeluarga yaitu kasih yang di munculkan. i. Tidak sombong dan rendah diri. Memang tanah besar papua mempunya kekayaan alam yang begitu menjajikan. Didalam daerah orang sendiri terdapat kekayaan alam yang begitu berlimpah dan menjanjikan pula. Namun daerah mee sediri menurut kata orang tua bahwa “tanah itu hidup” dimana dikatakan anah itu hidup karena tanah adalah sumber segala sesuatu dan asal manusia berasala dari tanah maka tanah itu harus di hormati dengan cara melestarikan dan tidak membiarkan hutan gundul. Tanah orang mee menurut mereka adalah tanah itu dimiliki bukan hanya mereka saja melaikan dimilii oleh orang lain pula .sekarang muncul satu pertanyaan siapa itu orang lain yang mereka maksud. Orang lain yang mereka maksud adalah orang –orang yang mempunyai tanah itu “tuan tanah” (makipuwee)dan orang lain yang menjaga hutang dengan dunia mereka sendiri yaitu abe (perempuan setan),tameyai (setan terbang), yimiyo(setan rupa manusia), itu merupakan 3 komponen bersatu namun manusia mee dan 3 dunia gaib tersebut adalah satu dalam bentuk lingkungan fisik mereka. Kemakmuran dan kesejateraan bangsa mee di tentukan oleh mereka sendiri. Manusia mee akan makmur jika dia selalu mengikuti beberapa sifat yang sudah ada diatas di tambah dengan nilai-nilai hidup.beberapa nilai hidup mee adalah : 1. mogo kou ugatame-ugatame tetai (jangan menyembah berhala) 2. ikepa yoko ugatame beu (jangan ada padamu allah lain) 3. ugatame eka itopa teyabatai (jangan menyebut tuhan allahmu dengan sembarang). 4. Daa nago yuwii (kuduskanlah hari sabat) 5. Aku kai akaitai ya mana eyuwai (hormatilah ayah dan ibumu) 6. Oma teyamoti (jangan mencuri) 7. Puyamana tewegai(jangan bersaksi dusta) 8. Mogai tetai (jangan bersinah) 9. Okeiya agiyo aniya-aniya tetai 10. Kesepuluh nilai-nilai hidup diatas harus dijadikan landasan atau pondasi hidup dalam melangkah ke depan dalam mencari hidup yang lebih baik. Tujuan dari sepuluh perintah allah adalah sebagai suatu pedomaan hidup untuk berkarya di bumi ini. Sebagai manusia pastinya setiap individu di bumi ini juga ingin sejahtera dan makmur di dalam kehidupan. Suku mee sendiri adalah salah satu tipe suku yang nomaden dulu namun sejak mereka menetap di paniai maka disalah mereka merasakan susah dan senang hidup ini yang selama itu mereka belum pernah rasahkan mengapa karena selama mereka masih dikatan sebagai suku yang nomaden berartti bahwa seluruh kehidupan mereka tergantung pada alam yang mana mereka mencari kebutuhan sehari-hari lansung dari hutan dimana mereka bisa dikatakan bahwa makanan yang mereka makan bukan olahan dan tidak memiliki bahan kimia lain yang menyebabkan suku mee sendiri mempunyai umur yang cukup lama. Pada zaman modern ini penduduk papua khusus manusia mee masih dikatakan berada dibahwah standar hidup yang rendah yang mana mereka untuk mencari sepiring nasi untuk sehari saja susah pada hal tanah besar ini kaya akan kekayaan alam yang begitu menjajikan. Namun sekarang yang menjadi pertanyaan adalam mengapa masih ada orang papua yang berada dibawah standar hidup yang rendah. Beberapa indicator kemakmuran di tanah papua adalah : Table social Indicators 2007 Penduduk miskin Indek pembangunan Manusia Sumber penerangan Listrik (%) Akses air bersih 40.78 63.41 46.36 38.44 Jadi dari table diatas dapat kita lihat bahwa papua merupakan suatu pulau yang kaya, dari “KATA ORANG” bahkan kita sendiri bisa melihatnya dengan mata telanjang bahwa kekayaan kita tersebut ada dimana-mana dan dalam rupa apa saja baik itu emas, tambang minyak, air bersih yang dihasikan hutan dan hasil hutan lainya. namun disini saya mau katakan bahwa pemerintah harus bekerja keras demi menjamin kesejateraan masyarakat ini karena dari table ini sangat tampak bahwa sebagaian kecil dari masyarakat papua yang meningkmati kekayaan alam papua namun itu juga secara tidak sempurna. Dari table diatas dapat kita lihat bahwa 40,78% masyarakat papua berada dibawah standar hidup atau berada dibawah standar hidup yang memperhatikan. dimana itu bisa dikatakan bahwa mereka mencari makan pun susah. Sekarang jika kita bandingkan dengan indeks pembagunan manusia atau pembagunan sumber daya manusia itu sudah 63,41% dan jika kita bandingkan dengan dengan penduduk miskin maka kira-kira 2.59% manusia papua yang sudah berpendidikan dan belum mendapatkan pekerjaan yang tetap. jadi itu berartri bahwa pemerintah provinsi papua tidak memberikan peluang dan kempatan kepada generasi papua untuk berkarya diatas tanahnya sendiri mengapa demiakian ? karena pemerintah provinsi papua tidak membuka lapangan pekerjaan yang baru yang cocok untuk mereka. Sekarang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yaitu dari table diatas terdapat sumber penerangan sebesar 46,36% dan akses air bersih 38,44% itu berarti bahwa 54,64% penduduk papua tidak memakai penerangan yang mana sekarang dipapua sudah ada dana otonomi khusus yang cukup besar namun banyak masyarakat pula yang tidak mengunakan aliran listrik untuk menerangi rumah mereka. Disini masalah air bersih juga menjadi masalah yang sangat besar untuk masyarakat papua dan menjadi suatu pekerjaan rumah yang mau tidak mau perlu di tuntaskan tahap demi tahap untuk memberikan suatu kesejahteraan merata. Dalam hal ini air bersih adalah kebutuhan pokok rumah tangga yang perlu di tuntaskan dimana jika kita lihat, maka terdapat kira-kira 61,56% penduduk papua yang tidak mengunakan air bersih untuk kebutuhan konsumsi mereka tiap harinya. Sekarang kita akan lihat berapa besar banyak manusia papua yang sedang diberdayakan dan berapa banyak manusia papua yang masih buta huruf. Dengan dimikian diatas dapat kita ambil pendapat baru bahwa ini semuncul dari kesalahan transpofasi bahasa alkitab ke dalam bahasa budaya dengan contoh konkrit adalah pikeda. Dimana seiring dengan perkembangan zaman yang begitu menjajikan dengan banyaknya peluandan yang cukup banyak dan kesempatan untuk bekerja namun disini dari itu sebuah ancaman dan worning yang diantaranya adalah sebagai berikut 1. Ancaman genoside 2. Ancaman masuknnya budaya baru daari luar yang mengacurkan (breaking down) budaya asli (original) yang ada di dalam suku-suku di papua khussunya suku mee. 3. Ancaman dari dunai IPTEK adalah manusia dipaksa untuk mengetahui mengetahui suatu ilmu pasti dan alam dengan tidak memikirkan baik buruknya masalah itu sendiri. 4. Masalah ini juga berasal dari IPTEK yaitu pornografi. Dan ada juga masalah lain yang mengahambat pertumbuhan SDM dalam budaya ini adalah I. Factor kesalah fahaman budaya Factor ini bisa muncul sebab seorang tidak di didik melalui budaya IV. Tinjauan Cultural suku Mee sebagai langkah menuju preventif Manusia cenderung untuk mengembangkan, aspek-aspek kehidupannya, sampai mencapai suatu derajat kehalusan atau kompleksitas tertentu. Kemampuan manusia untuk melakukan hal itu, kadang-kadang menutupi kenyataan, bahwa mungkin manusia menghadapi masalah-masalah dasar yang harus diatasinya, apabila dia ingin mempertahankan eksistensinya. Masalah-masalah tersebut tidak hanya menyangkut eksistensinya secara fisik, akan tetapi juga secara sosial. Unsur-unsur dasar dari kehidupan sosial adalah syarat-syarat minimal yang harus dipenuhi, demi eksistensinya suatu kehidupan sosial. Unsur-unsur dasar tersebut merupakan kondisi-kondisi yang harus dipelihara dan dikembangkan, agar kehidupan sosial dapat bertahan. Untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya, manusia mengembangkan pola-pola perilaku yang dapat dianggap sebagai bentuk-bentuk dasar dari organisasi sosial. Pola-pola tersebut antara lain, mencakup adat-istiadat yang paling sederhana sampai pada hal-hal yang relatif kompleks. adat-istiadat (custom) atau secara alternatif sering disebut juga kebiasaan (folkways)merupakan istilah yang menunjuk perilaku yang khusus dan distandarisasikan yang merupakan kebiasaan bagi penganut-penganut suatu kebudayaan tertentu. Seperti yang dikatakan oleh Edwar Tylor (1832-1917), bahwa “kebudayaan (klasik) adalah setiap hasil perilaku manusia yang kemudian diajarkannya kepada generasi-generasi berikutnya yang pada gilirannya mengakumulasikan serta mentransmisikan pengetahuannya.Pengertian tersebut dapat diterapkan pada suatu perilaku yang secara relatif, sederhana misalnya, memberi salam kepada seorang sahabat, sampai pada peristiwa-peristiwa yang agak kompleks seperti, misalnya perkawinan, upacara adat, dan lain-lain”. Hubungan antara pola-pola adat-istiadat dalam suatu masyarakat biasanya terorganisasikan sedemikian rupa sehingga berkaitan dengan masalah-masalah atau tujuan-tujuan tertentu. Pola atau perangkat adat-istiadat tertentu, dinamakan peranan (role). Peranan berhubungan erat dengan harapan-harapan mengenai perilaku-perilaku yang dianggap pantas. Peranan-peranan tertentu bersifat terbuka dan dapat diberikan kepada setiap warga masyarakat. Sehingga dapat dijadikan suatu tolok ukur berdasarkan pendapat Edwar Tylor, yang menyatakan bahwa kebudayaan/peradaban merupakan kompleks menyeluruh yang mencakup, pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan lain kemampuan serta kebiasaan yang dipunyai manusia sebagai warga dari suatu masyarakat. Perkembangan perubahan kebudayaan suku Mee Nama yang diturunkan oleh leluhur suku adalah Mee. Mee berarti orang-orang yang telah dipenuhi dengan akal budi yang sehat; dapat berpikir secara logis; dapat membedakan suku ini dari suku yang lain; dapat membedakan barang miliknya dengan milik orang lain; daerah garapannya dengan garapan milik orang lain; dan dapat mentaati amanat-amanat yang diwariskan oleh leluhur, dan amanat yang paling utama yang dilarang adalah hal perzinahan. (Asmara Adhy, 1980:71). Suku Mee dikenal sebagai “petani” ubi jalar, talas, sayur-mayur, tebu dan buah-buahan. (Slamet Ina E., 1964:35). Kedua hal ini menjadi fokus tinjauan perkembangan kebudayaan suku Mee pada masa kini. Ada sedikitnya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sebagai tolok ukur dan bahan analisis agar pemahaman kita dapat tertuju pada tujuan pokok penulisan judul opini, yaitu: 1. Mengapa suku Mee sekarang tidak dan jarang melakukan pesta budaya “yuwo” yang pada masa-masa lalu ini merupakan kegiatan tradisi suku Mee? 2. mengapa orang Mee sekarang tidak kenal daerah-daerah yang dikeramatkan oleh leluhur/orang tua untuk terus dilindungi tetapi yang terjadi adalah dibongkar untuk membuat kebun, rumah dan atau kandang ternak? 3. Mengapa orang Mee sekarang tidak lagi memegang dan atau menyimpan benda-benda keramat dan benda-benda antik?; yang dulunya oleh leluhur kita menggunakan itu untuk mengatur dan mempertahankan hidup yang baik. 4. Mengapa orang Mee sekarang pada usia remaja bisa pacaran dengan romantis hingga pada etape erotisme yang susah dikendalikan? Padahal, dahulu hal demikian disebut mogaii dan sangat tabu dilakukan oleh suku Mee karena peranan tradisi adat-istiadat yang kuat dan baik sehingga sangat ditakuti untuk dilakukannya. 5. Mengapa orang Mee sekarang jarang menanam ipoo untuk koteka, Tawa (rokok)? Padahal, kedua tumbuhan ini sangat diperhatikan oleh kaum lelaki suku Mee pada zaman dulu. Dari sekian pertanyaan di atas ini menunjukkan adanya perubahan yang terjadi secara signifikan dalam tradisi suku Mee akibat perkembangan arus globalisasi. Perkembangan globalisasi ini disertai aroma budaya luar (modern) yang menyebar luas dan dalam berbagai bentuk yang cenderung mempengaruhi aspek kehidupan suku Mee. Faktor yang cenderung mempengaruhi perubahan tradisi suku Mee adalah: Aspek Masuknya Agama dan aspek masuknya Pemerintah. Aspek masuknya Agama pemenjadi awal perubahan (difusi antarmasyarakat) budaya di kalangan suku Mee karena orang asing pertama yang menginjakkan kaki di tanah Paniai adalah seorang imam yang dapat menyebarkan agama. Pengaruh daripada masuknya agama ini tidak dapat merubah suatu sistim budaya Mee secara menyeluruh (universal). Akan tetapi sebagian yang diangap berlawanan dengan ajaran agama. Aspek mesuknya pemerintah di wilaya paniai mengakibatkan sistem cultural suku Mee dapat mengalami suatu perkembagan sistem pemerintahan yang ada. Sitem pemerintahan yang ada dipimpin oleh Tonawi (kepala Suku) Namun masih terbatas pada suatu wilaya yang dibatasi oleh gunung, sungai, danau dan lainnya. Disamping itu juga Tonawi ditentukan berdasarkan kekayaan dan cara bertanggung jawab demi kepentingan umum. Hal perluh diketahui bahwa ada beberapa unsur budaya suku Mee yang mengalami perubahan maupun perkembangan yang drastis adalah unsur budaya pemerintahan(tonowi, meibo) , unsur kepercayaan (mogai daa, kegotai), unsur berpakaian (koteka, Moge) dan unsur ekonomi (Mege). V. Tradisi-tradisi suku mee Sebagai salah satu suku yang terbesar di papua dimana suku mee termasuk kedalam 5 suku terbesar dipulau papua memiliki peran aktif dalam pembagunan daerah dan pembangunan manusia secara tradisional yang nantinya akan membentuk manusia handal di profesinya masing-masing. pada sasarnya suku telah berkembang di paniai sejak 4 abab yang lalu dimana ekspedisi mereka dimulai dari png menuju oksibil dari oksibil menuju wamena lebih tepatnya di lembah baliem (gua pasema) mereka masih nomaden. suku ini membentuk jti diri mereka dari situ membentuk prinsip hidup, membentuk nilai,norma, aturan,kaidah, filosofi tradisional, dan ideologi yang menjadi dasar mereka untuk membangun mansyarakat mee yang utuh dan mempunyi seperangkat media komunikasi, tranformasi kepada generasi penerus yang baik. Memang suatu perkembangan harus diawali dengan suatu perkembangan susah payah namun hasil dari keringat kita keluarkan akan mengasilkan berkat yang melimpah bagi orang lain dan kita sendiri akan emndapatkan upah yang setimpal disurga. Suku memiliki banyak tradisi dan upaca adat beberapa uapacara adat yang dipunyai ataralaina adalah 1. Yuwo (pesta emas), gold party 2. Kamutai 3. Ipuwe witogai 4. Wodauwaga wati membatasi kelakuaan atau dosa dari kakek 5. Eba mukai pengumpulan dana 6. Gaupe untuk pemberian nama kepada laki-laki dewasa 7. Kaboduwai untuk membatasi suatu penyakit yang melanda suatu marga 8. Owoupuwe witogai karena kelaparan 9. Madou kamu 7 hr 7 malam harus did lm rumah A. YUWO (pesta emas atas pesta puncak) Yuwo menurut salah seorang tokoh adat THOBIAS UKAGO dari kampung diyai yaitu pesta adat untuk mencari dana atau pusat pencarian dana beberpa fungsi yuwo .yuwo ini biasaya 1. Mencari jaringan masrga dari nenek moyang dahulunya ada dimana yuwo dijadikan sebagai sarana komunikasi perkenalan. 2. Sebagai penentu temperature ekonomi suatu wilayah di daerah paniai Yuwo memiliki pernana penting dalam perkembangan suatu daerah dengan kenikan tersebut yang dimilikinya maka disini yuwo. Sesuai dengan fungsi yuwo sebagai penentu temperature ekonomi maka beberpa hal yang dilaksanakan dalam yuwo dalam bentuk kegiatan transaksi jual beli adalah. 1. Komuditi yang dijual • Babi (ekina) • Petatas (nota) • tebu (eto) • Yatu • Kulit kayu (bebi) • Daun pandang (koboye) • Busur dan anakpanah (uka mapega) 2. Prosesi berjalanya yuwo • Tahap pertama Perencenaan adalah suatu rapat tradisional yang dilakukan oleh komunitas diasuatu kampung dengan topic pembicaaan adalah bagaimana yuwo tersebut dapat kita mabil dan diadakan di wilayahnya. Dengan hal ini mengecek kesiapan masyarakat setempat untuk mengambil yuwo (yuwo moti) artinya keputusan mengambil yuwo Sesudah perencanaan matang dimana ditputuskan untuk mengambil yuwo sudah di sahkan untuk melakukana cara tersebut maka selanjutnya adalah penembangan pohon ange adalah untuk mengambil yuwo dengan membunuh satu ekor babi dan dikhususkan untuk laki-laki. Pada acara penembangan onage ini ada satu larangan yaitu kayu onage yang di tebang pertama tidak boleh terkena atau sentuh tanah dan onage tersebut di letakan di atas keyage (para-para).ada beberap hal yang di perhatikan adalah • Jika sejalan dengan penebangan pohon onage jika ada sekor burung nuri lewar disitu maka akan terjadi malapapetaka yaitu orang yang menebang pohon tersebut akan meninggal. • jika ada seekor burung wogiyo maka istri dari orang yang menebang pohon tersebut akan meninggal. • Ada beberpa hal yang menguntungkan ditu sewaktu penebangan pohon adalah jika terdapat banyak sarang semut atau kutu busuk maka akan banyak mendapat rejeki pada pesta tersebut. • Pengambilan kayu rumah yuwo (yuwo owa) Beberapa kayu diambil untuk pembuatan yuwo owa adalah : • Onage untuk alas bawah • Sebagai pemeleh luah adalh pohon obay • Sebagai ibu tiang adalah katu besi (kayu digi atau amo) Pada bagian pondasi pohon yang sudah di tujukan untuk pembuatan pondasi harus langsung di tanam dan jika pembuatan rumah tersebut di mulai maka harus diselesaikan dalam sehari rampun. Sesudah pembuatan yuwo owa tersebut yang boleh masuk pada malam itu adalah hanya laki-laki yang di perbolehkan untuk menginap pada malam pertama rumah tersebut telah jadi.pada malamnya nanti di iringi dengan lagu daerah dan orang yang datang dari daerah lain boleh tinggal di daerah tersebut beberapa hal yang penting adalah para tamu yang datang untuk bertamu tersebut harus di berikan makan oleh orang-orang di kampung dimana terselenggaranya acara tersebut. (by guti )
Posted by . on Rabu, 05 November 2014
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN SUKU MEE
Budaya memang harus di lestarikan namun untuk
melestarikanya kita membutuhkan suatu komitmen dan rasa memiliki dalam diri
seseorang individu. Budaya pada dekade akhir-akhir ini merupakan suatu wacana
memang jarang di perbincangkan oleh banyak orang mengapa karena mereka
mengangap bahwa itu merupakan hal klasik dan merupakan suatu momok memalukan
untuk diri mereka sendiri. Mengapa mereka tidak mau meleatarikan budaya mereka
?beberapa alasan yang mendasari mereka adalah:
- Manusia adalah menjadikan budaya sebagai suatu momok
yang memalukan.
- Budaya bagi mereka tidak akan memberikan keuntungan
dalam hidup mereka.
- Budaya bukan bagian dari hidup mereka dalam aarti bahwa
budaya bukanlah waktu buat merekan dalam konteks bahwa zaman modern.
- Budaya hanya banyak berbicara masalah orang-orang
kampung saja.
- Budaya bukanlah milik mereka namun itu hanya milik
orang kampung dll.
karena budaya di
miliki oleh setiap manusia dan pastinya berbeda. Budaya mee adalah salah satu
adopsi dari beberapa budaya dan tradisi yang terdapat di pegunungan tengah
papua masyarakat mee. Tujuan dari Suku mee sendiri terbentuk dan ada di dunia
adalah untuk menjaga dan melestarikan budaya ini bukan menjadi pengikut budaya
lain. Suatu tradisi akan muncul ketika seseorang mendapat masalah atau problem
dan bagaimana dia mengahadapi dan memecahkan masalah tersebut. Maka cara orang
itu menyelesaikan masalah itu yang akan menjadi suatu tradisi dalam suku
tersebut. Maka jasanya itu akan dijadikan sebuah symbol dengan membentuk sebuah
ritual contohnya pesta yuwo (pesta emas) dengan pencipta pesta ini atau seorang
peternak babi dari kampung uwamani.
- Siapa suku mee itu ?
Siapa suku Mee itu? Suku Mee adalah salah satu suku dari 312
suku yang ada di Papua. Suku Mee mendiami di wilayah Pegunungan Tengah Papua
Bagian Barat. Ciri khas wilayah suku Mee adalah di sekitar danau Paniai, danau
Tage, Danau Tigi, Lembah Kamu (sekarang Dogiyai) dan pegunungan Mapiha/ Mapisa.
Namun, kini secara administrasi pemerintahan suku Mee berada di sepuluh distrik
dari Kabupaten Paniai dan empat Distrik dari Kabupaten Nabire.
Arsitektur tradisional adalah wujud suatu kebudayaan yang
bertumbuh dan berkembang bersama dengan pertumbahan dan perkembangan suatu suku
atau bangsa. Dalam arsitektur tradisional Suku Mee Papua terkandung secara
terpadu wujud kebudayaan orang Mee seperti ide-ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan-peraturann, pendangan hidup dan lain sebagainya.
Arsitektur tradisional adalah wujud karya nyata leluhur. Namun
yang menjadi pertanyaan adalah apakah karya leluhur itu dapat di lestarikan
atau dimusnahkan, karena mengangap “kuno, kampungan, ketinggalan, dan
tradisional?”. Arsitektur tradisional merupakan suatu wujud kebudayaan yang
bertumbuh dan berkembang bersama dengan pertumbahan dan perkembangan suatu suku
atau bangsa mee itu sendiri. Dan merupakan wujud unsur kebudayaan yang bisa
diraba/ dilihat.
Dalam arsitektur tradisional suku Mee Papua terkandung
nilai-nilai budaya yang diperlihatkan melalui karya arsitektur tradisional.
Arsitektur tradisional yang dapat kita lihat saat ini adalah hasil kesimpulan
akhir atas pengujian alami yang di lakukan oleh leluhur orang Mee. Selain itu,
yamewa merupakan kesimpulan dari apa yang dipikirkan oleh oleh Mee, dan
“diwujudkan” dibangun sebagai tanggapan terhadap sekumpulan kondisi yang
kadang-kadang hanya bersifat fungsional semata atau merupakan refleksi sosial,
ekonomi, politik, perilaku atau tujuan-tujuan simbolis.
- Arsitektur tradisional suku Mee Papua
berikut ini adalah
salah satu dari berbagai macam suku di Papua yang memilki nilai-nilai, bentuk
dan ukuran, serta ungkapan jiwa melalui arsitektur yang sangat berbeda. Tulisan
berikut ini adalah salah satu suku mee yang berhasil dihimpun melalui suatu
penelitian “survei” pada beberapa waktu laktu lalu. Dalam penelitian “survey”
yang berjudul “Studi Tipologi dan Kearifan Arsitektur Tradisional Suku Mee
Papua” itu berhasil dikumpulkan data dan fakta di lokasi penelitian yang
dimaksud. Pada akhirnya menemukan beberapa tipe arsitektur tradisional yang
dimiliki oleh suku Mee Paniai Papua yang di bahas berikut ini.
Tulisan berikut ini merupakan gambaran umum daripada hasil penelitian itu, yang di bahas dari sudut pandang arsitekturnya saja. Untuk, itu pembahasan yang lebih mendalam lengkap dengan kajian filosofi, antropologi budaya, sosial, dan lain sebagainya kita akan bahas di waktu dan lain tempat waktu-waktu yang akan datang.
1. Tipologi arsitektur rumah tradisional
Ada 7 (tujuh) Tipe arsitektur rumah tradisional diantaranya
adalah (1) Hame Owa Secara harafia hame artinya laki-laki Owa artinya rumah. hame
Owa artinya (Rumah tinggal laki-laki). Rumah ini dibangun untuk tempat tinggal
laki-laki dalam suatu kampung. Semua bangunan (hame Owa) yang di bangun dengan
pertimbangan-pertimbangan khusus.
Fungsi rumah hame Owa bukan hanya merupakan suatu tempat tinggal
laki-laki. Tetapi dalam rumah ini terjadi berbagai macam aktivitas yang perlu
dilakukan oleh laki-laki secara turun-temurun. Selain sebagai tempat tinggal
laki-laki, hame owa adalah pusat komunikasi dan informasi aktual, tempat
menyelesaikan persoalan (perang, maskawin), tempat menyimpang alat-alat perang
(panah) pusat pembuatan alat perkebunan dan alat kesenian. Dan tempat
mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan nasehat bagi semua laki-laki sejak usia
4/5 tahun.
Tidak ada ukuran standar yang diturunkan oleh nenek moyang.
Tetapi dibangun dengan perkiraan atas kebutuhan akan ruang dan penghuni. Cara
menentukan ukuran bangunan adalah dengan mengukur dengan tangan (jari-jari)
atau kaki. Cara lain adalah memperkirakan dengan ukuran tinggi manusia dengan
tinggi bangunan. Ukuran bangunan ini, yang telah dibangun adalah Panjang
±350cm. Lebar ±300cm. Tinggi lantai ±60cm. Dinding±150-200cm. Kemiringan Atap
±150-300. Ketinggian atap ±100-130cm.
Bahan bangunan yang dipakai pada Yame Owa adalah untuk penutup
atap menggunakan kulit kayu. Panjang pohon ini diperkirakan sekitar
±30.000cm-50.000cm. Diameter pohon ini sekitar 30 – 70 centi meter. Ketebalan
kulit kayu ini adalah 0,3 cm. Panjang ukuran yang sering dipakai untuk penutup
atap adalah ± 60 - 200 cm. Panjang ini bukan standar yang dipakai, namun
ditentukan serat pohan itu sendiri.
Jenis bahan yang di pakai untuk struktur bangunan adalah berupa
tiang-tiang pancang. Pada dinding bangunan mempunyai tiga lapisan yaitu lapisan
pertama dinding luar mengunakan tiang-tiang, lapisan kedua kulit kayu dan
lapisan ketiga menggunakan papan cincang. Bahan yang dipakai untuk lantai
terdiri dari tiang pondasi panggung, balok induk (mutaidaa), balok anak (yokaa
mutaida), deretan kayu buah yang berukuran kecil yang di ikat dengan balok
anak. (katage). Selanjutnya adalah lapisan paling atas yaitu kulit pohon kelapa
hutan. (tibaa).
1. Yagamo Owa
,secara harafia kata Yagamo artinya perempuan Owa artinya rumah,
Yagamo Owa artinya (Rumah tinggal perempuan). Fungsi rumah Yagamo Owa bukan
hanya merupakan suatu tempat tinggal bagi perempuan, tetapi dalam rumah ini
terjadi berbagai macam aktivitas yang dilakukan oleh perempuan secara
turun-temurun. Selain sebagai tempat tinggal perempuan, fungsi lain dari Yagamo
Owa adalah pusat komunikasi dan informasi aktual, serta tempat proses belajar
bagi anak-anak perempuan. Tempat menyimpang alat-alat perkebunan (yadokopa),
pusat pembuatan alat penangkap ikan.
Ukuran bangunan Yagamo Owa, adalah panjang 350cm. Lebar 300cm.
Tinggi lantai ±60cm. Dinding ±150- 200 cm. Kemiringan atap ±150-300. Ketinggian
atap ±100-130cm.
Bahan bangunan yang dipakai pada Yagamo Owa, untuk penutup atap
menggunakan daun pandang dan alang-alang serta beberapa jenis bahan penutup
atap lainnya. Penggunaan jenis bahan penutup atap ini disesuaikan dengan
ketersediaan bahan di sekitarnya. Pada umunya, bahan penutup atap Yagamo Owa
adalah yage dan widime. Kedua jenis bahan ini mampu bertahan sampai berpuluhan
tahun. Secara struktural bangunan, Yagamo Owa hampir sama dengan Yame Owa.
Namun, yang membedakan adalah pada ornamen-ornamen san bahan yang digunakan.
2. Tii-Daa Bega Owa
(Rumah Honai)
secara harafiah tii-da bega owa artinya sebuah bangunan yang
membentuk gunung yang mempunyai ujung yang tajam. Fungsi bangunan ini
adalah dua yaitu difungsikan untuk tempat tinggal laki-laki dan tempat
perempuan. Selain itu fungsi lain adalah tempat menyimpan barang-barang
berharga dari laki-laki ataupun perempuan. Lokasi bangunan ini berada di
kampung-kampung, namun jarang di bangun dengan alasan bahwa rumah honai adalah
rumah adat suku Dani (Wamena). Tetapi ada perbedaan yang dapat dilihat adalah
ketinggian bangunan. Dimana bangunan rumah honai suku mee lebih tinggi dari
pada dani (wamena). Bahan yang digunakan untuk memdirikan banguan ini
adalah sama dengan bangunan lain yang ada di suku mee. Tetapi pada bagian
penutup atap menggunan alang alang. Selain itu pada rangka atap banyak
menggunakan kayu buah. Pada setiap dinding hanya mengunakan satu lapisan
dinding. Sehingga pada malam hari terjadi kedinginan.
Ukuran bangunan ini adalah tinggi lantai 60cm, tinggi dinding
150-200cm, tinggi atap ± 100cm, lebar ± 250-300cm, panjang ± 250- ±300m. Bentuk
bangunan ini sama dengan lingkaran dengan besar diameter ±250-300cm.
3. Yuwo Owa
secara harafiah dapat diartikan bahwa Yuwo artinya pesta Owa
artinya rumah, sehingga rumah ini sering disebut rumah pesta adat suku Mee.
Bila dipandang dari segi aktivitas dalam rumah ini, memiliki banyak “nama”. Aktivitas
yang dilakukan pada saat puncak pelaksanaan pesta adat, sebelum aataupun
sesudah sangat berfariasi.
Fungsi bangunan ini adalah pertama, tempat melakukan jual-beli
dengan cara balter dan uang tradisional (kulit kerang). Kedua, tempat mencari
jodoh, saat melakukan pesta adat laki-laki dan perempuan saling tukar gelang
atau kalung sebagai tanda ungkapan cinta. Ketiga, tempat hiburan malam. Satu
minggu satu kali mereka tentuykan sebagai malam hiburan, untuk mengekspresikan
seni tari maupun seni suara dalam rumah ini. Untul mendirikan rumah ini perlu
pertingan secara matang. Bangunan ini adalah bangunan yang paling besar yang
dibangnun oleh suku Mee.
Ukuran bangunan ini adalah tinggi lantai ±40cm, tinggi dinding
±200cm, tinggi atap 150cm, lebar bangunan 1.300cm, panjang bangunan ± 2.100cm.
Bahan yang digunakan untuk mendirikan bangunan ini adalah sama
dengan bahan bangunan lainya. Tetapi pada bagian penutup atap menggunakan daun
pandang. Selain itu pada rangka atap banyak menggunakan tiang-tiang. Pada
setiap dinding hanya mengunakan satu lapisan dinding (papan cincang). Sehingga
pada malam hari terjadi kedinginan. Bentuk banguan ini sama dengan lain yaitu
persegi empat.
4. Daba Owa (Rumah Pondok)
secara harafia kata Daba artinya Daba kecil Owa artinya rumah,
Daba Owa artinya (Rumah pomdok kecil). Rumah pondok di bangun di kebun
hutan.
Fungsi rumah Daba Owa bukan hanya merupakan suatu tempat
istirahat pada siang hari, tetapi dalam rumah ini terdapat banyak fungsi yang
meliputi pertama, tempat masak-masak hasil kebun. Kedua, tempat menyimpan
kampak/ parang, alat-alat perkebunan, dan alat-alat perburuan. Ketiga, tempat
berlindung dari hujan dan panas sinar matahari. Keempat, tempat menjaga
binatang liar agar tidak mencungkil tanaman.
Ukuran bangunan Daba Owa, adalah panjang ±250cm. Lebar ±200cm.
Tinggi dinding ±150-200cm. Kemiringan atap ± 150-300. Ketinggian atap ±
100-130cm.
Bahan bangunan yang dipakai pada Daba Owa, untuk penutup atap
menggunakan daun pandang,alang-alang dan kulit kayu. Penggunaan jenis bahan
penutup atap ini disesuaikan dengan ketersediaan bahan di sekitarnya. Secara
struktural bangunan, Daba Owa tidak sebanyak lapisan seperti Yame Owa dan
Yagamo Owa. Struktur dinding Daba Owa hanya satu lapisan. Deretan tiang-tiang
yang membentuk dingding ini, juga berfungsi sebagai struktur utama bangunan
ini.
5. Ekina Owa (Kandang Babi)
Babi merupkan jenis binatang piaraan yang sangat berharga dalam
kehidupan suku Mee. Sehingga untuk menjaga agar babi itu tetap hidup dalam
kandang yang aman dan nyaman maka dibangun sebuah rumah (kandang) sendiri. Bagi
orang Mee babi merupakan salah satu penentu status sosial dalam kehidupan
masyarakat, yang sering disebut tonawi. Seseorang bisa dikatakan tonawi karena
dia memiliki kekayaan (babi banyak) dan mempunyai istri yang banyak serta
mempunyai atau mengetahui hal-hal mistik.
Fungsi rumah ini adalah tempat tinggal/ kandang babi. Menurut
cerita mitos, manusia (orang mee), hidup bersama dengan ekina dalam satu rumah.
Sekarang lokasi rumah ini berada di pingir atau di dekat rumah laki-laki atau
perempuan. Jarak antara rumah tinggal dengan ekina owa di batasi oleh pagar
(wee eda). Ukuran bangunan ini adalah sekitar 1-2 meter, ukuran ini sangat
berfariasi. Dan di tentukan oleh jumlah babi yang di milikinya.
Bentuk bangunan ini sama dengan bentuk-bentuk bangunan lain,
yaitu persegi empat. Pada atap bangunan menggunan bentuk atap pelana, tetapi
hanya sebagian.
Bahan-bahan yang di pakai untuk membangun rumah ini meliputi
untuk struktur utama dan pendukung adalah kayu. Bahan penutup atap adalah kulit
kayu dan alang-alang. Untuk pengikat antara struktur utama, pendukung maupun
penutup adalah rotan dan beberapa jenis tali.
6. Bedo Owa (Kandang Ayam).
Orang Mee sampai saat ini meyakini bahwa ayam merupakang
binatang piarahan pendantang, karana belum terdapat di daerah Paniai. Namun
demikian, pada saat ini yaitu sekitar tahun 1970-an ayam dipelihara sebagai
salah pemberi protein bagi tubuh manusia. Ayam hadir di daerah atas bantuan
pemerintah dan di bawah dari luar daerah ini.
Sesuai dengan nama rumah ini, fungsinya adalah kandang ayam.
Dalam rumah ini orang Mee memelihara ayam. Ayam-ayam akan tinggal dalam rumah
ini hanya pada malam hari. Karena pada siang hari ayam-ayam tersebut
berkliharaan di pinggir rumah atau kebun dekat ruamh tinggal. Sistem
pemeliaraan ini memberikan kesempatan pada burung-burung pemakan daging
misalnya elang untuk membunuh anak ayam.
Saat ini orang Mee mengetahui dan membedahkan bagaimana
mendirikan sebuah rumah untuk kandang ayam ataupun bebek, atau jenis binatang
piaraan lainya. Akan tetapi sampai saat ini belum mengenal cara dan sistem pemeliharaan
yang baik dan benar.
Bentuk bangunan ini sama dengan bentuk-bentuk bangunan lain,
yaitu persegi empat. Pada atap bangunan menggunan bentuk atap pelana, tetapi
hanya sebagian. Ukuran kandang ayam ini, memiliki panjang ±200cm, lebar
±200cm.
Bahan-bahan yang di pakai untuk membangun rumah ini meliputi
untuk struktur utama dan pendukung adalah kayu. Bahan penutup atap adalah kulit
kayu dan alang-alang. Untuk pengikat antara struktur utama, pendukung maupun
penutup adalah rotan dan beberapa jenis tali.
2.Tipologi Arsitektur Pagar Tradisional
Pagar merupakan suatu elemen arsitektur yang di gunakan untuk
melindungi kenyamanan dalam rumah maupun kebun. Ada dua fungsi utama pagar bagi
orang Mee adalah; pertama memagari rumah tinggal entah itu rumah tinggal
laki-laki atau rumah tinggal perempuan. Kedua mengelilingi kebun agar babi atau
pencuri tidak masuk kedalam kebun.
Babi merupakan binatang piarahan yang berharga, cara memelihara
babi (orang Mee) adalah malam hari di masukan kedalam kandang (ekina owa).
Tetapi pada siang hari dibiarkan untuk berkeliaran di sekitar kebun atau rumah.
Orang Mee hingga saat ini masih belum mengenal cara memelihara ternak secara
moderen (dalam kandang).
Sistem pemeliharaan babi seperti ini membuat orang Mee, harus berpikir
untuk membuat pagar, agar makanan dalam kebun tetap tumbuh dengan baik, tanpa
gangguan dari binatan liar, terutama babi (ekina).
Ada tiga jenis pagar yang di buat oleh masyarakat suku Mee yang
di bedakan menurut bentuk, kualiatas bahan yang digunakan, ukuran, dan cara
pembuatan dari setiap pagar yang ada diantaranya;
1. Wee eda
adalah pagar ini di tanam secara vertikal. Secara kualitas
bahan, bila di banding dengan kedua jenis pagar, maka pagar ini memiliki
kualitas yang cukup tinggi. Pemilihan jenis pohon untuk pagar ini tidak
sembarang. Telah di tentutukan beberapa jenis pohon untuk membuat pagar. Jenis
pohon yang pakai untuk membuat pagar ini antara lain, Yewo (kayu besi), Digi/
Didame, Obai, Duigi, Amo.
Selain kualitas bahan yang memiliki tingkat ketahanan yang cukup
lama, pagar jenis ini juga sumber pendapatan uang (mege). Apabila suatu pohon
ketika di tebang atau di belah keras maka jenis pohon ini memiliki kualitas
ketahanan yang baik.
Pagar ini berfungsi sebagai, pertama pembatas tanah leluhur/
kebun, kedua pembatas rumah dengan rumah, ketiga mengelilingi kebun agar babi
tidak mencungkil makanan. Keempat mendirikan kandang ayam (bedo owa) atau babi
(ekina owa).
Lokasi pagar ini biasanya di dataran rendah, terutama untuk
kebun-kebun di sekitas rumah. Untuk kebun hutan (kebun yang di buat dengan
membersikan, menebang pohon disekitarnya) jarang di gunakan jenis pagar ini.
Umumnya pagar ini di gunakan untuk memagari rumah dengan kebun di sekitar rumah
yang terdapat banyak keliaran babi di sekitarnya.
(2) Petu Eda (Pagar Horinsontal)
Secara kualiatas bahan pagar ini masig lebih
rendah dibanding wee eda. Tidak tahan lama, karena menggunkan kualitas bahan
rendah. Ukuran pagar lebar±2cm, panjang ±200-300cm. Bentuk pagar ini adalah
merupakan susunan papan yaang disusun dari bawah keatas. Papan-papan ini diikat
pada pagar yang ditanam secara vertikal. Pagar ini muda di buat, sehingga waktu
pengerjaan membutuhkan waktu relatif singkat.
Pagar ini, dibuat pada lokasi tertentu yang
ditentukan dari lingkungan sekitrarnya. Misalnya, kebun hutan (bukit), lembah.
Pemilihan pagar jenis ini, yang digunakan pada kebun hutan dan lembah dengan
pertimbangn. Pertama, mudah mendapat bahan untuk membuat pagar. Kedua, jenis
pagar yang bersifat sementara. Ketiga muda disesuaikan dengan kontur tanah.
Keempat, proses pengerjaan dan pembuatan yang muda dan gampang.
(3) Tege Eda (Pagar Tiang)
. Pagar jenis ketiga yang dibuat oleh masyakat
suku Mee adalah tege eda. Secara kualitas bahan, serta ketahanan terhadap iklim
sekitar sangat relatif singkat. Bahan pembuatan pagar ini, diambil dari kayu
yang masih muda (baru tumbuh). Masyarakat Papua menyebut kayu buah.
Pagar ini digunakan untuk mengelilingi kandang
ayam. Tetapi, biasa digunakan untuk mengelilingi kebun atau rumah. Ukuran
ketinggiannya lebih tinggi.
3.Tipologi Arsitektur Jembatan Tradisional.
(1) Goo Koto
(Jembatan Gantung). Jembatan ini merupkan jembatan
sangat panjang. Fungsi jembatan ini adalah menyebragi ke kebun hutan atau luar
kampung. Bentuk jembatan ini adalah model jembatan gantung. Namun yang menjadi
persoalan atau bahaya adalah ketika menyebrang jembatan ini jatuh, maka manusia
tersebut tidak di selamatkan, karna hanyut dalam air.
(2) Koma Koto,
(Jembatan Model Perahu). Disebut jembatan
model perahu karana bentuk dan cara pembuatan jembatan ini seperti perahu
tradisional. Panjangnya jembatan ini ditentukan dari besar kecilnya kali atau
sungai. Membuat jembatan ini, di buat di hutan seperti perahu tradisional.
Kualitas bahan (kayu yang dipakai) adalah kayu besi (yeewo piya. Jenis kayu ini
adalah salah satu jenis kayu yang kuat dan besar. Panjang satu pohon mencapai
70-100meter.
(3) Tege Koto
(Jembatan Tiang). Tege koto, artinya jembatang
tiang karena hampir semua kayu yang dipakai adalah tiang. Bahan-bahan untuk
membuat jembatan ini dipilih beberapa jenis kayu berdasarkan kuliatas kayu.
Kayu yang digunakan untuk jembatan ini adalah amoo piya, digi piya, yegou dan
beberapa jenis kayu yang dianggap kuat dan bertahan terhap air.
Pada zaman dulu, pengikat antar tiang-tiang
pada struktur utama, tiang penyangga maupun struktur pendukung adalah tali.
Jenis tali yang dipilih adalah rotan dan beberapa jenis tali laninnya. Sesuai
degnan perkembangan zaman, saat dapat sangat terlihat beberapa rumah pagar dan
jembatan menggunkan paku dan kabel atau kawat besi.
(4) Piyauti Koto
(Jembatan Darurat), Jembatan ini di buat pada
saat air sungai pasang. Letak jembatan ini adalah di hutan karena memang di
gunakan hanya untuk menyebrang saat air sungai banjir. Jembatan ini juga model
perahu, namun bisa dikatakan jembatan darurat sebab sering terjadi banyak
banjir saat musim hujan.
jadi Bahwa arsitektur adalah simbol yang mencerminkan dasar hidup manusia. Arsitektur tradisional suku Mee adalah SIMBOL PEMERSATU ide, perasaan, perbedaan pandangan. Suku Mee memandang Arsitektur tradisional adalah tempat dan hasil budaya . Di situ mereka memaknai setiap fenomena alam dan masyarakat yang dihadapi dalam proses hidupnya.
Pembentukan ruang pada arsitektur Suku Mee terjadi dengan memertimbangkan tradisi masyaraakat dan penggunaan bahan-bahan lokal. Karena itu arsitektur suku Mee adalah salah satu contoh timbal balik antara alam dan budaya manusianya (nature and culture) yang bagus. Hal ini perlu dikemukakan karena, perkembangan mutakhir, arsitektur tidak lagi meningindahkan tradisi dan bahan, bentuk lokal sehingga banyak darinya kehilangan identitas.
jadi Bahwa arsitektur adalah simbol yang mencerminkan dasar hidup manusia. Arsitektur tradisional suku Mee adalah SIMBOL PEMERSATU ide, perasaan, perbedaan pandangan. Suku Mee memandang Arsitektur tradisional adalah tempat dan hasil budaya . Di situ mereka memaknai setiap fenomena alam dan masyarakat yang dihadapi dalam proses hidupnya.
Pembentukan ruang pada arsitektur Suku Mee terjadi dengan memertimbangkan tradisi masyaraakat dan penggunaan bahan-bahan lokal. Karena itu arsitektur suku Mee adalah salah satu contoh timbal balik antara alam dan budaya manusianya (nature and culture) yang bagus. Hal ini perlu dikemukakan karena, perkembangan mutakhir, arsitektur tidak lagi meningindahkan tradisi dan bahan, bentuk lokal sehingga banyak darinya kehilangan identitas.
- Tingkat kesejateraan dan kemakmuran suku mee
Kesejahteraan dan
kemakmuaran suatu bangsa dan etnis pada masa primitive tergantung dari manusia
dalam arti bahwa seseorang jika ingin menajadi makmur maka seseorang memiliki
sikap.
- Mempunyai kemauan yang keras dalam diri orang mee.
- Selalu berusaha keras memenuhi kebutuhan dengan
cara-cara yang halal
- Tidak muda putus asa dengan mudah dan begitu saja.
- Siap mengambil resiko jika terjadi masalah pada usaha
yang dimiliki contoh gagal panen.
- Selalu mencari peluang dan jalan keluar untuk
pengembangan dan kemajuan usaha mereka.
- Menjadi manusia yang memiliki rasa miliki akan
budayanya sendiri dan melestarikan dengan dasra bahwa budaya adalah
landasan.
- Selalu bersyukur atas pemberian yang diberikan tuhan
(ugatame).
- Menjadi berkat buat orang lain dalam arti bahwa
memunculkan dalam hidup berkeluarga yaitu kasih yang di munculkan.
- Tidak sombong dan rendah diri.
Memang tanah besar
papua mempunya kekayaan alam yang begitu menjajikan. Didalam daerah orang
sendiri terdapat kekayaan alam yang begitu berlimpah dan menjanjikan pula.
Namun daerah mee sediri menurut kata orang tua bahwa “tanah itu hidup” dimana
dikatakan anah itu hidup karena tanah adalah sumber segala sesuatu dan asal
manusia berasala dari tanah maka tanah itu harus di hormati dengan cara
melestarikan dan tidak membiarkan hutan gundul. Tanah orang mee menurut mereka
adalah tanah itu dimiliki bukan hanya mereka saja melaikan dimilii oleh orang
lain pula .sekarang muncul satu pertanyaan siapa itu orang lain yang mereka
maksud. Orang lain yang mereka maksud adalah orang –orang yang mempunyai tanah
itu “tuan tanah” (makipuwee)dan orang lain yang menjaga hutang dengan dunia
mereka sendiri yaitu abe (perempuan setan),tameyai (setan terbang),
yimiyo(setan rupa manusia), itu merupakan 3 komponen bersatu namun manusia mee
dan 3 dunia gaib tersebut adalah satu dalam bentuk lingkungan fisik mereka.
Kemakmuran dan kesejateraan bangsa mee di tentukan oleh mereka sendiri. Manusia
mee akan makmur jika dia selalu mengikuti beberapa sifat yang sudah ada diatas
di tambah dengan nilai-nilai hidup.beberapa nilai hidup mee adalah :
- mogo kou ugatame-ugatame tetai (jangan menyembah
berhala)
- ikepa yoko ugatame beu (jangan ada padamu allah lain)
- ugatame eka itopa teyabatai (jangan menyebut tuhan
allahmu dengan sembarang).
- Daa nago yuwii (kuduskanlah hari sabat)
- Aku kai akaitai ya mana eyuwai (hormatilah ayah dan
ibumu)
- Oma teyamoti (jangan mencuri)
- Puyamana tewegai(jangan bersaksi dusta)
- Mogai tetai (jangan bersinah)
- Okeiya agiyo aniya-aniya tetai
Kesepuluh nilai-nilai
hidup diatas harus dijadikan landasan atau pondasi hidup dalam melangkah ke
depan dalam mencari hidup yang lebih baik. Tujuan dari sepuluh perintah allah
adalah sebagai suatu pedomaan hidup untuk berkarya di bumi ini. Sebagai manusia
pastinya setiap individu di bumi ini juga ingin sejahtera dan makmur di dalam
kehidupan. Suku mee sendiri adalah salah satu tipe suku yang nomaden dulu namun
sejak mereka menetap di paniai maka disalah mereka merasakan susah dan senang
hidup ini yang selama itu mereka belum pernah rasahkan mengapa karena selama
mereka masih dikatan sebagai suku yang nomaden berartti bahwa seluruh kehidupan
mereka tergantung pada alam yang mana mereka mencari kebutuhan sehari-hari
lansung dari hutan dimana mereka bisa dikatakan bahwa makanan yang mereka makan
bukan olahan dan tidak memiliki bahan kimia lain yang menyebabkan suku mee
sendiri mempunyai umur yang cukup lama.
Pada zaman modern ini
penduduk papua khusus manusia mee masih dikatakan berada dibahwah standar hidup
yang rendah yang mana mereka untuk mencari sepiring nasi untuk sehari saja
susah pada hal tanah besar ini kaya akan kekayaan alam yang
begitu menjajikan. Namun sekarang yang menjadi pertanyaan adalam mengapa
masih ada orang papua yang berada dibawah standar hidup yang rendah. Beberapa
indicator kemakmuran di tanah papua adalah :
Table social Indicators
2007
Penduduk
miskin
|
Indek pembangunan
Manusia
|
Sumber penerangan
Listrik (%)
|
Akses air bersih
|
40.78
|
63.41
|
46.36
|
38.44
|
Jadi dari table diatas
dapat kita lihat bahwa papua merupakan suatu pulau yang kaya, dari “KATA
ORANG” bahkan kita sendiri bisa melihatnya dengan mata telanjang bahwa
kekayaan kita tersebut ada dimana-mana dan dalam rupa apa saja baik itu emas,
tambang minyak, air bersih yang dihasikan hutan dan hasil hutan lainya. namun
disini saya mau katakan bahwa pemerintah harus bekerja keras demi menjamin
kesejateraan masyarakat ini karena dari table ini sangat tampak bahwa sebagaian
kecil dari masyarakat papua yang meningkmati kekayaan alam papua namun itu juga
secara tidak sempurna. Dari table diatas dapat kita lihat bahwa 40,78%
masyarakat papua berada dibawah standar hidup atau berada dibawah standar hidup
yang memperhatikan. dimana itu bisa dikatakan bahwa mereka mencari makan pun
susah. Sekarang jika kita bandingkan dengan indeks pembagunan manusia atau
pembagunan sumber daya manusia itu sudah 63,41% dan jika kita bandingkan dengan
dengan penduduk miskin maka kira-kira 2.59% manusia papua yang sudah
berpendidikan dan belum mendapatkan pekerjaan yang tetap. jadi itu berartri
bahwa pemerintah provinsi papua tidak memberikan peluang dan kempatan kepada
generasi papua untuk berkarya diatas tanahnya sendiri mengapa demiakian ?
karena pemerintah provinsi papua tidak membuka lapangan pekerjaan yang baru
yang cocok untuk mereka. Sekarang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yaitu
dari table diatas terdapat sumber penerangan sebesar 46,36% dan akses air
bersih 38,44% itu berarti bahwa 54,64% penduduk papua tidak memakai penerangan
yang mana sekarang dipapua sudah ada dana otonomi khusus yang cukup besar namun
banyak masyarakat pula yang tidak mengunakan aliran listrik untuk menerangi
rumah mereka. Disini masalah air bersih juga menjadi masalah yang sangat besar
untuk masyarakat papua dan menjadi suatu pekerjaan rumah yang mau tidak mau
perlu di tuntaskan tahap demi tahap untuk memberikan suatu kesejahteraan
merata. Dalam hal ini air bersih adalah kebutuhan pokok rumah tangga yang perlu
di tuntaskan dimana jika kita lihat, maka terdapat kira-kira 61,56% penduduk
papua yang tidak mengunakan air bersih untuk kebutuhan konsumsi mereka tiap
harinya. Sekarang kita akan lihat berapa besar banyak manusia papua yang sedang
diberdayakan dan berapa banyak manusia papua yang masih buta huruf.
Dengan dimikian diatas
dapat kita ambil pendapat baru bahwa ini semuncul dari kesalahan transpofasi
bahasa alkitab ke dalam bahasa budaya dengan contoh konkrit adalah pikeda.
Dimana seiring dengan perkembangan zaman yang begitu menjajikan dengan
banyaknya peluandan yang cukup banyak dan kesempatan untuk bekerja namun disini
dari itu sebuah ancaman dan worning yang diantaranya adalah sebagai berikut
- Ancaman genoside
- Ancaman masuknnya budaya baru daari luar yang
mengacurkan (breaking down) budaya asli (original) yang ada di dalam
suku-suku di papua khussunya suku mee.
- Ancaman dari dunai IPTEK adalah manusia dipaksa untuk
mengetahui mengetahui suatu ilmu pasti dan alam dengan tidak memikirkan
baik buruknya masalah itu sendiri.
- Masalah ini juga berasal dari IPTEK yaitu pornografi.
Dan ada juga masalah
lain yang mengahambat pertumbuhan SDM dalam budaya ini adalah
- Factor kesalah fahaman budaya
Factor ini bisa muncul
sebab seorang tidak di didik melalui budaya
- Tinjauan Cultural suku Mee sebagai langkah menuju
preventif
Manusia cenderung
untuk mengembangkan, aspek-aspek kehidupannya, sampai mencapai suatu derajat
kehalusan atau kompleksitas tertentu. Kemampuan manusia untuk melakukan hal
itu, kadang-kadang menutupi kenyataan, bahwa mungkin manusia menghadapi
masalah-masalah dasar yang harus diatasinya, apabila dia ingin mempertahankan
eksistensinya. Masalah-masalah tersebut tidak hanya menyangkut eksistensinya
secara fisik, akan tetapi juga secara sosial. Unsur-unsur dasar dari kehidupan
sosial adalah syarat-syarat minimal yang harus dipenuhi, demi eksistensinya
suatu kehidupan sosial. Unsur-unsur dasar tersebut merupakan kondisi-kondisi
yang harus dipelihara dan dikembangkan, agar kehidupan sosial dapat bertahan.
Untuk mengatasi masalah-masalah
yang dihadapinya, manusia mengembangkan pola-pola perilaku yang dapat dianggap
sebagai bentuk-bentuk dasar dari organisasi sosial. Pola-pola tersebut antara
lain, mencakup adat-istiadat yang paling sederhana sampai pada hal-hal yang
relatif kompleks. adat-istiadat (custom) atau secara
alternatif sering disebut juga kebiasaan (folkways)merupakan
istilah yang menunjuk perilaku yang khusus dan distandarisasikan yang merupakan
kebiasaan bagi penganut-penganut suatu kebudayaan tertentu. Seperti yang
dikatakan oleh Edwar Tylor (1832-1917), bahwa “kebudayaan
(klasik) adalah setiap hasil perilaku manusia yang kemudian diajarkannya kepada
generasi-generasi berikutnya yang pada gilirannya mengakumulasikan serta
mentransmisikan pengetahuannya.Pengertian tersebut dapat diterapkan pada suatu
perilaku yang secara relatif, sederhana misalnya, memberi salam kepada seorang
sahabat, sampai pada peristiwa-peristiwa yang agak kompleks seperti, misalnya
perkawinan, upacara adat, dan lain-lain”.
Hubungan antara pola-pola
adat-istiadat dalam suatu masyarakat biasanya terorganisasikan sedemikian rupa
sehingga berkaitan dengan masalah-masalah atau tujuan-tujuan tertentu. Pola
atau perangkat adat-istiadat tertentu, dinamakan peranan (role).
Peranan berhubungan erat dengan harapan-harapan mengenai perilaku-perilaku yang
dianggap pantas. Peranan-peranan tertentu bersifat terbuka dan dapat diberikan
kepada setiap warga masyarakat. Sehingga dapat dijadikan suatu tolok ukur
berdasarkan pendapat Edwar Tylor, yang menyatakan bahwa
kebudayaan/peradaban merupakan kompleks menyeluruh yang mencakup, pengetahuan,
kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan lain kemampuan serta
kebiasaan yang dipunyai manusia sebagai warga dari suatu masyarakat.
Perkembangan perubahan
kebudayaan suku Mee
Nama yang diturunkan
oleh leluhur suku adalah Mee. Mee berarti orang-orang yang telah dipenuhi
dengan akal budi yang sehat; dapat berpikir secara logis; dapat membedakan suku
ini dari suku yang lain; dapat membedakan barang miliknya dengan milik orang
lain; daerah garapannya dengan garapan milik orang lain; dan dapat mentaati
amanat-amanat yang diwariskan oleh leluhur, dan amanat yang paling utama yang
dilarang adalah hal perzinahan. (Asmara Adhy, 1980:71). Suku
Mee dikenal sebagai “petani” ubi jalar, talas, sayur-mayur, tebu dan
buah-buahan. (Slamet Ina E., 1964:35). Kedua hal ini
menjadi fokus tinjauan perkembangan kebudayaan suku Mee pada masa kini.
Ada sedikitnya
pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sebagai tolok ukur dan bahan analisis
agar pemahaman kita dapat tertuju pada tujuan pokok penulisan judul opini,
yaitu:
- Mengapa suku Mee sekarang tidak dan jarang melakukan
pesta budaya “yuwo” yang pada masa-masa lalu ini merupakan kegiatan
tradisi suku Mee?
- mengapa orang Mee sekarang tidak kenal daerah-daerah
yang dikeramatkan oleh leluhur/orang tua untuk terus dilindungi tetapi
yang terjadi adalah dibongkar untuk membuat kebun, rumah dan atau kandang
ternak?
- Mengapa orang Mee sekarang tidak lagi memegang dan atau
menyimpan benda-benda keramat dan benda-benda antik?; yang dulunya oleh
leluhur kita menggunakan itu untuk mengatur dan mempertahankan hidup yang
baik.
- Mengapa orang Mee sekarang pada usia remaja bisa
pacaran dengan romantis hingga pada etape erotisme yang susah
dikendalikan? Padahal, dahulu hal demikian disebut mogaii dan sangat tabu
dilakukan oleh suku Mee karena peranan tradisi adat-istiadat yang kuat dan
baik sehingga sangat ditakuti untuk dilakukannya.
- Mengapa orang Mee sekarang jarang menanam ipoo untuk
koteka, Tawa (rokok)? Padahal, kedua tumbuhan ini sangat
diperhatikan oleh kaum lelaki suku Mee pada zaman dulu.
Dari sekian pertanyaan
di atas ini menunjukkan adanya perubahan yang terjadi secara signifikan dalam
tradisi suku Mee akibat perkembangan arus globalisasi. Perkembangan globalisasi
ini disertai aroma budaya luar (modern) yang menyebar luas dan dalam berbagai
bentuk yang cenderung mempengaruhi aspek kehidupan suku Mee. Faktor yang
cenderung mempengaruhi perubahan tradisi suku Mee adalah: Aspek Masuknya Agama
dan aspek masuknya Pemerintah.
Aspek masuknya Agama
pemenjadi awal perubahan (difusi antarmasyarakat) budaya di kalangan suku Mee
karena orang asing pertama yang menginjakkan kaki di tanah Paniai adalah
seorang imam yang dapat menyebarkan agama. Pengaruh daripada masuknya agama ini
tidak dapat merubah suatu sistim budaya Mee secara menyeluruh (universal). Akan
tetapi sebagian yang diangap berlawanan dengan ajaran agama.
Aspek mesuknya
pemerintah di wilaya paniai mengakibatkan sistem cultural suku Mee dapat
mengalami suatu perkembagan sistem pemerintahan yang ada. Sitem pemerintahan
yang ada dipimpin oleh Tonawi (kepala Suku) Namun masih terbatas pada suatu
wilaya yang dibatasi oleh gunung, sungai, danau dan lainnya. Disamping itu juga
Tonawi ditentukan berdasarkan kekayaan dan cara bertanggung jawab demi
kepentingan umum.
Hal perluh diketahui
bahwa ada beberapa unsur budaya suku Mee yang mengalami perubahan maupun
perkembangan yang drastis adalah unsur budaya pemerintahan(tonowi, meibo) ,
unsur kepercayaan (mogai daa, kegotai), unsur berpakaian (koteka, Moge) dan
unsur ekonomi (Mege).
- Tradisi-tradisi suku mee
Sebagai salah satu
suku yang terbesar di papua dimana suku mee termasuk kedalam 5 suku terbesar
dipulau papua memiliki peran aktif dalam pembagunan daerah dan pembangunan
manusia secara tradisional yang nantinya akan membentuk manusia handal di
profesinya masing-masing. pada sasarnya suku telah berkembang di paniai sejak 4
abab yang lalu dimana ekspedisi mereka dimulai dari png menuju oksibil dari
oksibil menuju wamena lebih tepatnya di lembah baliem (gua pasema) mereka masih
nomaden. suku ini membentuk jti diri mereka dari situ membentuk prinsip hidup,
membentuk nilai,norma, aturan,kaidah, filosofi tradisional, dan ideologi yang
menjadi dasar mereka untuk membangun mansyarakat mee yang utuh dan mempunyi
seperangkat media komunikasi, tranformasi kepada generasi penerus yang baik.
Memang suatu perkembangan harus diawali dengan suatu perkembangan susah payah
namun hasil dari keringat kita keluarkan akan mengasilkan berkat yang melimpah
bagi orang lain dan kita sendiri akan emndapatkan upah yang setimpal disurga.
Suku memiliki banyak tradisi dan upaca adat beberapa uapacara adat yang
dipunyai ataralaina adalah
- Yuwo (pesta emas), gold party
- Kamutai
- Ipuwe witogai
- Wodauwaga wati membatasi kelakuaan atau dosa dari kakek
- Eba mukai pengumpulan dana
- Gaupe untuk pemberian nama kepada laki-laki dewasa
- Kaboduwai untuk membatasi suatu penyakit yang melanda
suatu marga
- Owoupuwe witogai karena kelaparan
- Madou kamu 7 hr 7 malam harus did lm rumah
- YUWO (pesta emas atas pesta puncak)
Yuwo menurut salah
seorang tokoh adat THOBIAS UKAGO dari kampung diyai yaitu pesta adat untuk
mencari dana atau pusat pencarian dana beberpa fungsi yuwo .yuwo ini biasaya
- Mencari jaringan masrga dari nenek moyang dahulunya ada
dimana yuwo dijadikan sebagai sarana komunikasi perkenalan.
- Sebagai penentu temperature ekonomi suatu wilayah di
daerah paniai
Yuwo memiliki pernana
penting dalam perkembangan suatu daerah dengan kenikan tersebut yang
dimilikinya maka disini yuwo. Sesuai dengan fungsi yuwo sebagai penentu
temperature ekonomi maka beberpa hal yang dilaksanakan dalam yuwo dalam bentuk
kegiatan transaksi jual beli adalah.
- Komuditi yang dijual
·
Babi (ekina)
·
Petatas (nota)
·
tebu (eto)
·
Yatu
·
Kulit kayu (bebi)
·
Daun pandang (koboye)
·
Busur dan anakpanah
(uka mapega)
- Prosesi berjalanya yuwo
·
Tahap pertama
Perencenaan adalah
suatu rapat tradisional yang dilakukan oleh komunitas diasuatu kampung dengan
topic pembicaaan adalah bagaimana yuwo tersebut dapat kita mabil dan diadakan
di wilayahnya. Dengan hal ini mengecek kesiapan masyarakat setempat untuk
mengambil yuwo (yuwo moti) artinya keputusan mengambil yuwo
Sesudah perencanaan
matang dimana ditputuskan untuk mengambil yuwo sudah di sahkan untuk melakukana
cara tersebut maka selanjutnya adalah penembangan pohon ange adalah untuk
mengambil yuwo dengan membunuh satu ekor babi dan dikhususkan untuk laki-laki.
Pada acara penembangan onage ini ada satu larangan yaitu kayu onage yang di
tebang pertama tidak boleh terkena atau sentuh tanah dan onage tersebut di
letakan di atas keyage (para-para).ada beberap hal yang di perhatikan adalah
·
Jika sejalan dengan
penebangan pohon onage jika ada sekor burung nuri lewar disitu maka akan
terjadi malapapetaka yaitu orang yang menebang pohon tersebut akan meninggal.
·
jika ada seekor burung
wogiyo maka istri dari orang yang menebang pohon tersebut akan meninggal.
·
Ada beberpa hal yang
menguntungkan ditu sewaktu penebangan pohon adalah jika terdapat banyak sarang
semut atau kutu busuk maka akan banyak mendapat rejeki pada pesta tersebut.
·
Pengambilan kayu rumah
yuwo (yuwo owa)
Beberapa kayu diambil
untuk pembuatan yuwo owa adalah :
·
Onage untuk alas bawah
·
Sebagai pemeleh luah
adalh pohon obay
·
Sebagai ibu tiang
adalah katu besi (kayu digi atau amo)
Pada bagian pondasi pohon yang sudah di
tujukan untuk pembuatan pondasi harus langsung di tanam dan jika pembuatan
rumah tersebut di mulai maka harus diselesaikan dalam sehari rampun. Sesudah
pembuatan yuwo owa tersebut yang boleh masuk pada malam itu adalah hanya
laki-laki yang di perbolehkan untuk menginap pada malam pertama rumah tersebut
telah jadi.pada malamnya nanti di iringi dengan lagu daerah dan orang yang
datang dari daerah lain boleh tinggal di daerah tersebut beberapa hal yang
penting adalah para tamu yang datang untuk bertamu tersebut harus di berikan
makan oleh orang-orang di kampung dimana terselenggaranya acara tersebut.
Penulis
| CB Blogger |
|
Popular Posts
-
SMA NEGERI 1 DOGIYAI Puisi Masa SMA Telah Berlalu/Puisi Kenangan SMA Masa SMA Telah Berlalu 3 tahun, 36 bulan, 144 minggu, 1...
-
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN SUKU MEE B udaya memang harus di lestarikan namun untuk melestarikanya kita membutuhkan suatu komitmen dan ras...
-
PENOLAKAN MASUK PERUSAHAN DIKAMPUNG ABAIMAIDA Pernyataan Sikap Masyarakat Kampung Abaimaida, Mapia, Kabupaten Dogiyai, Papua “KA...
-
Abaimaida Togel Jadikan Budaya Kerja hidup Tradisional di Meuwodide Kususnya di Mapiha Perkembangan pengaruh Globalisasi sangatlah cepat ...
-
Teman Asrama Kontrakan Dogiyai Di asrama kami ada kontraka dogiyai di sulawei selatan , tadinya hanya ditiduri oleh 2 orang, aku ada ...
-
HIDUP INI, BEGINI Iman dan sabar yang harus dimiliki. Lihatlah dBak' jalan yang tuk dilewati Memberi arti,memberi misteri Tak terus...
-
RINDU UNTUK AYAH Tatap lembut dalam bingkai Mengantar angan ke masa lalu Kegalauan… Serpihan luka memeluk kalbu ...
-
DULU YANG BEBAS Terenung kisah silam bagi negeri pusakaku di mana, tersenyum indah merasakan damai yang tak elukan beraktivitas tanpa ta...
-
abaimaida kampung halaman PUISI KAMPUNG HALAMANKU KAMPUNG HALAMANKU........... TEMPAT DIMANA AKU DILAHIRKAN DISANALAH AKU DIBES...
-
................................KAWAN...................................... Kawan Saya masih Bertahan Hati masih tersiksa ingin sekali ...
Template by Creating Website and CB Blogger

Poskan Komentar