Koteka, Tak Hanya Sebuah
Pakaian Tradisional
By Amo on mei 09, 2016
Photo/koteka/amoye kayame
Suku-suku di Papua memiliki
banyak hal-hal unik, seperti adat-istiadat, bahasa, kuliner, hingga pakaian.
Salah satu pakaian yang paling menggambarkan kebudayaan Papua secara umum
adalah Koteka. Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan pria dalam
kebudayaan asli Papua. Secara harfiah, koteka sendiri bermakna pakaian yang
berasal dari bahasa Mee. Suku Dani yang menempati daerah Bukit Balliem, Wamena,
Jayawijaya, menyebut pakaian tradisional ini Horim/Holim. Sedangkan suku-suku
di daerah lain di Papua memiliki sebutan tersendiri untuk koteka. Namun yang
paling familiar adalah koteka.
Koteka terbuat dari tumbuhan
yang buahnya mirip seperti mentimun dengan bentuk yang agak panjang. lebih
tepatnya koteka terbuat dari kulit buah labu-labuan yang berbentuk panjang dan
berkulit keras, dan mempunyai nama latin Lagenaria Sicecaria. Orang
Mee menyebutnya bobbe. Bobbe biasanya di tanam di kebun atau di halaman rumah.
proses pembuatannya, bobbe
dipetik (biasanya yang sudah tua) kemudian dimasukkan kedalam pasir halus. Di
atas pasir halus tersebut dibuat api yang besar. Setelah panas kulit bobbe akan
lembek dan isinya akan mencair, lalu biji-biji beserta cairan akan keluar dari
dalam ruas bobbe. Setelah itu, bobbe digantung (dikeringkan) di perapian hingga
kering. Setelah kering dilengkapi dengan anyaman khusus dan siap pakai sebagai
koteka.
Ukuran koteka biasanya
berkaitan dengan aktivitas pengguna yang akan bekerja atau melakukan upacara
adat. Suku-suku di Papua bisa dikenali dengan cara mereka menggunakan koteka.
Banyak suku-suku di sana yang dapat dikenali dari cara mereka menggunakan
koteka. Suku Yali misalnya, menyukai bentuk labu yang panjang. Sedangkan orang
Tiom biasanya memakai dua labu. Biasanya koteka yang pendek digunakan saat
bekerja, sedangkan koteka dengan ukuran yang lebih panjang biasa digunakan
sebagai hiasan-hiasan digunakan dalam upacara adat.
Seiring waktu, koteka semakin
kurang populer dipakai sehari-hari. Koteka dilarang dikenakan di kendaraan umum
dan sekolah-sekolah. Kalaupun ada, koteka hanya untuk diperjualbelikan
sebagai cenderamata. Di beberapa kawasan pegunungan, seperti Wamena,
koteka masih dipakai. Untuk berfoto dengan pemakainya, wisatawan harus merogoh
kantong beberapa puluh ribu rupiah.
Meskipun di era modern ini
kotek atelah beralih fungsi, namun koteka tetap menjadi bagian dari kebudayaan
Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan. Dengan menjaga aset budaya yang
ada di Indonesia sama artinya kita menjaga nilai-nilai luhur yang tidak akan
hilang meski ada di era modern.(Amo Robby/Gobay)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar